Rumitnya Meneliti Kehidupan Peneliti

Senin, 20 September 2010

Di luar negeri, profesi peneliti sangat dihargai. Bukan hanya dari segi pengakuan karya, namun juga dari sisi pendapatan, untuk yang senior, pendapatannya bisa mencapai 60 juta rupiah per bulan. Lalu, bagaimana dengan peneliti indonesia?

Meski hasil kerja mereka berpengaruh pada kehidupan orang banyak, kehidupan para peneliti dan perekayasa di negeri ini jauh dari kesan glamor. Sebagian besar waktu peneliti bahkan tersita di laboratorium yang sesak dengan berbagai macam alat ukur. Terkadang, mereka menyepi di perpustakaan untuk memperkaya isi otak dengan berbagai ilmu pengetahuan.

Mereka juga sering duduk berlama-lama di depan komputer. Entah itu untuk menulis laporan ilmiah secara sistematis sesuai kaidah dan metode ilmiah atau memantau perkembangan bidang ilmu yang sedang digelutinya lewat situs-situs ilmiah di jagat maya. Selain itu, mereka kerap memanfaatkan Internet untuk berkorespondensi dan berbagi data dengan kolega di dalam maupun luar negeri.

Sela-sela kesibukannya membuktikan kebenaran dan ketidak-kebenaran asumsi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) mereka manfaatkan untuk berdiskusi dengan kolega atau datang ke sebuah seminar. Mereka juga memanfaatkan waktu luang untuk mentransfer ilmu kepada mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi.

Meski tak dianugerahi banyak uang, jalan hidup ini mereka jalani dengan senang dan tidak ada paksaan dalam melaKuKan kegiatan ilmiah. Sebab, kebanyakan dari mereka memang mendedikasikan hidup demi kemajuan Iptek dalam negeri ini. Tak ayal kalau secara jamak mereka memiliki prinsip hidup sebagai individu yang dapat bermanfaat bagi orang banyak.

Berdasarkan data yang dihimpun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sampai Maret 2009, jumlah peneliti dan perekayasa di Indonesia ada 7.673 orang dari 36 instansi pemerintah pusat dan daerah. Salah satu orang yang memilih jalur peneliti tersebut ialah.Suharsono. Peneliti oseanografi LIPI itu merasa nyaman menjadi ilmuwan lantaran memiliki kebebasan melakukan pekerjaan yang memang sudah menjadi hobi.

Dia dapat mengekspresikan ide-ide di otaknya secara bebas menjadi karya ilmiah. “ladi apa yang saya kerjakan bukan karena terpaksa, apalagi dipaksa,” kata pria yang menyandang gelar dalam bidang ekologi terumbu karang di Department of Biology, University Newcastle upon Tyne, Inggris.

Lantaran berjibaku di dunia oseanografi. Suharsono juga sangat menikmati ketika melakukan ekspedisi mengarungi lautan Indonesia maupun dunia selama menjalani kegiatan riset ilmiah. Dia dapat menikmati panorama keindahan alam, baik di atas maupun di dalam permukaan laut

Selama ekspedisi, penulis buku Jenis-jenis Karang di Indonesia ini tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun dari kantong pribadinya. Sebab sebagian besar program ekspedisinya dibiayai pemerintah atau lembaga riset luar negeri. “Malahan saya sering kali dapat uang saku,” cetus Suharsono.

Dari ekspedisi itu pula ia dapat mengenal banyak peneliti lain sehingga jaringan kerja kian luas. Ujung-ujungnya, ketika banyak orang telah mengenal dan mengetahui kapasitas keilmuannya, undangan menjadi pembicara seminar tak akan sepi. Tawaran untuk mengajar di sejumlah perguruan tinggi datang dengan sendirinya.

“Bermacam tawaran menyangkut pengembangan ilmu pengetahuan dapat kita terima karena menjadi peneliti memiliki waktu yang relatif fleksibel,” kata Suharsono. Pasalnya, kewajiban sebagai peneliti untuk membuat laporan ilmiah dapat dilakukan di mana saja, kapan saja.

Pratondo Busono, perekayasa alat-alat kesehatan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), sependapat dengan Suharsono. Setiap Sabtu dan Minggu, ia biasa memanfaatkan waktu untuk mengajar di beberapa perguruan tinggi. “Hitung-hitung sebagai tambahan untuk mencukupi kehidupan sehari-hari sebagai kepala keluarga,” ujar Kepala Bidang Instrumentasi Kedokteran BPPT ini.

Kesejahteraan

Para peneliti maupun perekayasa yang merangkap sebagai dosen di suatu perguruan tinggi memang masing-masing memiliki alasan tersendiri. Ada yang memang sengaja untuk menularkan ilmu mereka, namun ada pula yang sengaja merangkap menjadi dosen agar bisa hidup lebih layak.

Sebab sudah menjadi rahasia umum di negeri ini, bahwa kesejahteraan sebagai peneliti dan perekayasa masih sangat minim bila dibandingkan dengan luar negeri. Anggaran kegiatan penelitian dan rekayasa di negera ini masih 0,04 persen dari produk domestik bruto (PDB). Padahal idealnya, anggaran tersebut minimal 1 persen dari PDB.

“Jadi jangan heran sekitar 20 persen perekayasa di BPPT memiliki pekerjaan sampingan,” cetus (umain Appe, Sekretaris Utama BPPT. Contoh gaji dan tunjangan fungsional para perekayasa tingkat pertama di BPPT yang dapat mereka bawa pulang ke rumah sekitar 4 juta rupiah. Ketika perekayasa tingkat pertama naik ke tingkat lebih tinggi (tingkat muda, madya, dan utama), gaji dan tunjangan bertambah 600 ribu rupiah.

Soal kesejahteraan peneliti, mari kita tengok gaji dan tunjangan fungsional Sunarsono. Sebagai penyandang gelar profesor riset dari LIPI, Peneliti Utama IVe, berpendidikan S3, dan telah mengumpulkan angka kredit lebih dari 1.050 poin ini hanya memiliki gaji sekitar 3,5 juta rupiah dan tunjangan fungsional 1,4 juta rupiah. Padahal ia telah mendedikasikan dirinya lebih dari 30 tahun untuk mengembangkan ilmu oseanografi.

Lalu, bagaimana kesejahteraan para peneliti yang memiliki kaliber seperti Suharsono di Malaysia dan Singapura? “Peneliti senior di Malaysia dalam setiap bulan mendapatkan gaji sekaligus tunjangan 20 juta hingga 30 juta rupiah. Sedangkan, peneliti senior yang sama-sama meneliti terumbu karang di Singapura setiap bulan mendapatkan gaji serta tunjangan dengan total 60 juta rupiah,” cetus Suharsono.

Harus diakui pula, peran pemerintah untuk mengembangkan dua jalur profesi masih sangat minim. Selama ini, para peneliti dan perekayasa dituntut dapat memberikan kontribusi kepada negara dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana penunjang penelitian. Bersyukur, kebanyakan para peneliti dan perekayasa Indonesia memiliki prinsip kerja “tak ada rotan akar pun jadi”

Pratondo, misalnya, meskipun merasakan ketimpangan fasilitas laboratorium rekayasa alat-alat kedokteran antara yang dimiliki BPPT dan tempat dia pernah mengenyam pendidikan doktor di Universitas McMaster, Kanada, ia masih bisa berkarya.

Dia pernah mengembangkan prototipe biosensor multideteksi yang bisa mengetahui secara bersamaan kandungan kadar gula, asam urat, dan kolesterol dalam tubuh dengan satu kali tes. Selain itu, dia pernah mengembangkan ultrasonografi (USG) berbasis personal computer yang diklaim pertama di Indonesia.

Baik Pratondo maupun Suharsono tetap produktif menghasilkan karya lantaran mereka gigih dan rajin mengirimkan proposal proyek ilmiah di luar lembaga riset mereka bekerja selama ini. Misalnya, mengirimkan proposal penelitian di Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Nasional, pihak industri, dan lembaga riset luar negeri.

Proposal proyek ilmiah yang mereka ajukan tidak lain bertujuan untuk tambal sulam dana. Sedangkan, untuk mengatasi permasalahan minimnya fasilitas penelitian, mereka biasa menggandeng peneliti atau perekayasa dari luar negeri. Dengan demikian, mereka bisa menumpang menggunakan laboratorium dengan peralatan yang canggih.awm/L-4

 

link: http://www.lipi.go.id/www.cgi?berita&1284946689&2&2010&1036005996

Koran Jakarta, 6 April 2010

About CM Community

Terima kasih telah berkunjung ke Blog kami. Berminat menulis disini? Kirim tulisan anda segera ke envirojournal@gmail.com.
This entry was posted in Biography. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Komentar Anda Disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s