Dilema Pemulung, dibutuhkan dan dihinakan?

Kiri: Sampah yang sudah berserakan. Kanan: Pemulung sedang mengeluarkan sampah dari tong sampah (photo credit by : Melisa MSI)

Perhatikan foto diatas. Gambar disebelah menunjukkan keadaan sampah yang baru saja dikeluarkan dari dalam tong sampah. Gambar sebelah kanan diambil beberapa saat sebelumnya. Saat pemulung sedang mengeluarkan isi dari tong sampah, memungut barang-barang yang dianggap berharga lalu meninggalkannya pergi begitu saja.

Foto ini diambil pada Minggu (01/05) jam delapan malam di Malioboro. Apa yang anda tangkap dari dua gambar yang disatukan diatas?

Menyoal permasalahan pemulung di Yogyakarta. Ataupun di kota/daerah lain di Indonesia akan membuat kita dilematis. Ditinjau dari sudut pandang pemulung tentu saja mereka membenarkan, menganggap perbuatan mereka sah-sah saja dalam mencari rezeki. Tidak ada banyak pilihan dalam hidup mereka. Tidak banyak waktu untuk mengembalikan sampah-sampah itu ketempat semula. Menjadi pemulung, bagi pemulung berarti mereka telah siap dihinakan, dipandang sama seperti sampah yang mereka pungut. Kotor, bau, dan menjijikkan. Jadi kepalang tanggung. Sudah dicap hina, lalu mereka pun bekerja seefektif mungkin. Memungut yang berharga, lalu pergi ke tong sampah berikutnya tanpa harus menghabiskan waktu untuk mengembalikan sampah yang berserakan ke dalam tong sampah.

Ditinjau dari kacamata pemerintah kota. Jelas sekali kelakuan pemulung semacam ini sangat merepotkan dan menjengkelkan. Tentu saja petugas kebersihan yang akan kebagian jatah membereskan ulah pemulung tersebut. Memungut satu persatu sampah yang terserak kemudian dimasukkan kedalam mobil pengangkut sampah. Wajar jika petugas Satpol PP atau dinas kebersihan yang memergoki pemulung yang sedang mengobrak-abrik tong sampah akan marah besar. Petugas-petugas ini sudah tahu apa yang akan terjadi jika hal tersebut tidak ditegur/dihentikan ditempat. Hasilnya sampah-sampah pasti akan terserak disekitar tong sampah.

Ditinjau dari sudut pandang kita sebagai khalayak umum yang kebetulan berada dekat dengan kejadian seperti diatas. Anda punya penilaian seperti apa? kalau saya punya penilaian seperti ini. Saya tidak berani menegur pemulung tersebut. Takut kalau-kalau dia marah dan pengait besi ditangannya dilemparkan pada saya. Saya akan merasa jijik dengan sampah berserakan itu. Kesal pada pemulung yang memungut sampah semaunya lalu meninggalkan sisa pekerjaannya begitu saja. Tapi saya tetap diam, toh nantinya bukan saya yang akan repot. Tentu petugas kebersihan yang akan membereskannya. Apalagi lokasi kejadian merupakan tempat wisata yang ramai.

Nah, kita punya penilaian yang saling berbeda. Tujuannya semua baik untuk si pembuat penilaian. Tapi itu bukan solusi. Apa anda sependapat dengan saya?

Mari kita satukan tiga penilaian tersebut untuk mendapatkan solusinya. Kita akan merunutkan penilaian kita berdasarkan sudut pandang lingkungan. Pemulung sebenarnya memiliki peran sentral dalam hal penyortiran sampah. (anda setuju bukan?) Namun mereka memiliki kelemahan dalam kebiasaan kerjanya, yaitu merasa dihinakan, akibatnya menjadi tidak peduli pada kebersihan. Petugas kebersihan memiliki peran sentral dalam mengurus kebersihan kota secara umum, namun tidak bisa juga mengesampingkan aspek pemulung yang banyak kita dapati dikota-kota besar. Sebenarnya Dinas kebersihan dapat bertindak sebagai mediator ataupun fasilitator dalam mencari solusi terkait pemulung dan sampah. Dan saya (sebagai khalayak umum) juga memiliki peran sentral dalam membentuk perilaku si pemulung. Bagaimana tidak? orang-orang seperti sayalah yang menghinakan pemulung, membiarkan mereka, mencibir dan menganggap jijik. Menganggap pekerjaan mereka hina, namun sebenarnya ada simbiosis mutualisme diantara saya, pemulung dan dinas kebersihan ini.

Simbiosis seperti apa yang dimaksud?

Begini, bukankah pemulung hanya mengambil barang yang mereka anggap masih berharga/memiliki nilai ekonomis? Ya benar. itulah jawabannya. Artinya pemulung dengan pekerjaannya memiliki tugas menyortir sampah, hingga sampah yang sampai ke TPS adalah sampah yang benar-benar tidak memiliki nilai guna dimata mereka. Satu masalah selesai. Kita dapat mengamankan banyak hal yang masih bermanfaat.

Permasalahan yang tersisa adalah kebiasaan yang buruk dari pemulung. Ini adalah tugas saya dan Dinas kebersihan. Saya bertugas membiasakan diri melihat pemulung menyortir sampah, menganggap pekerjaan mereka adalah mulia dari sudut pandang ekonomi dan lingkungan, jika mau malah saya membantunya mengembalikan sampah yang terserak kedalam tong sampah. Tugas Dinas kebersihan selain tentunya mengangkut sampah-sampah tersebut adalah memberikan penyuluhan kepada saya dan pemulung agar dapat hidup berdampingan.

Mari kita duduk satu meja, sambil minum kopi bersama dengan di fasilitasi oleh dinas Kebersihan yang memiliki sarana dan prasarana. Saya (khalayak umum), pemulung, dan Dinas kebersihan. Duduk bersama membicarakan bagaimana sebaiknya penanganan sampah dalam kota tanpa merugikan masing-masing pihak.

Hasilnya :

  1. Pemulung dapat tetap memungut sampah, tidak merasa hina dan terganggu oleh khalayak. Bahkan mereka bekerja sambil tersenyum atau bersenda gurau dengan khalayak disekitarnya.
  2. Dinas kebersihan tak perlu dongkol karena tidak ada sampah yang berserakan. Semua sudah ada didalam tong sampah, tinggal diangkut.
  3. Saya (khalayak umum) merasa nyaman melihat kota bersih, tidak alergi melihat pemulung, bahkan terkadang saya ikut membantu mereka.

Sederhana bukan, seandainya kita mau saling berbagi dan mengerti.
Berita ini telah diposting di Kompasiana : Dilema pemulung, dihinakan atau dibutuhkan?

About CM Community

Terima kasih telah berkunjung ke Blog kami. Berminat menulis disini? Kirim tulisan anda segera ke envirojournal@gmail.com.
Gallery | This entry was posted in Antropologi. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Komentar Anda Disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s