SERANGAN ULAT BULU, INDIKASI RUSAKNYA KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN EKOSISTEM

Oleh : Nurul Amin

Populasi ilat bulu meningkat dan bermigrasi ke pemukiman warga, menyerang tanaman (Sumber foto=http://alamendah.wordpress.com/2011/04/14/kenapa-wabah-ulat-bulu-menggila/)

Serangan ulat bulu (Lymantriidae) yang menyerang pulau Jawa, Bali, dan Sumatra adalah indikasi terganggunya ekosistem. Dalam kasus ini tampak populasi ulat bulu mengalami peningkatan yang tak terkendali, bermigrasi ke perkebunan, lalu memakan tanaman warga. Dilaporkan beberapa daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, Jambi telah diserang populasi Ulat bulu.

Berbagai narasumber telah membahas peningkatan populasi dan migrasi yang tidak lazim ini. Salah satunya yang paling representatif mengatakan kasus ini diakibatkan oleh meningkatnya suhu di Bumi akibat pemanasan global (Global Warming). Dimana akibat peningkatan gas CO2 terjadi penurunan kandungan nitrogen di daun-batang tanaman. Sementara serangga sangat membutuhkan nitrogen dalam pertumbuhannya. Akibatnya serangga memakan daun dan tanaman dalam jumlah yang banyak.

Selain penyebab utama diatas, penyebab yang tidak kalah pentingnya adalah keseimbangan ekosistem. Meningkatnya populasi ulat bulu dapat ditilik dari konsep rantai makanan. Dimana dalam rantai makanan ini terjadi interaksi memakan atau dimakan yang berproses secara alami. Dalam suatu ekosistem, semakin besar keanekaragaman hayati, maka kemungkinan ekosistem itu untuk bertahan akan semakin besar. Ekosistem yang memiliki kenaekaragaman hayati yang kaya cenderung lebih seimbang dan tahan terhadap perubahan dibandingkan ekosistem yang memiliki keanekaragaman hayati miskin.

Pada kasus ulat bulu ini, kemungkinan besar telah terjadi ketidakseimbangan ekosistem. Dimana predator utama dari ulat bulu mengalami penurunan populasi akibat ulah manusia. Salah satu predator ulat bulu adalah semut rang-rang. Semut ini memangsa telur dari ulat bulu. Namun karena semut rang-rang sering diburu untuk dijadikan pakan burung, maka jumlah populasinya semakin menyusut. Begitu juga halnya dengan Kelelawar pemakan serangga. Kerusakan goa kapur, sebagai habitat kelelawar jenis ini menyebabkan kelelawar kehilangan habitat dan populasinya menyusut. Padahal kelelawar adalah predator dari ulat bulu dewasa.

Dua predator utama ulat bulu mengalami penyusutan populasi, keanekaragaman hayati rusak, akibatnya terjadi ketidakseimbangan di ekosistem. Hasilnya populasi ulat bulu meningkat tajam.

Solusi yang bisa dijalankan untuk jangka panjang adalah mengembalikan keanekaragaman hayati tersebut. Dimana proses ekosistem kembali seimbang dan rantai makanan alami kembali berjalan normal. Pemusnahan terhadap spesies ulat bulu (Lymantriidae) mungkin saja dilakukan, tetapi akan memakan biaya yang mahal dan waktu yang lama. Jadi, solusi yang paling bijak adalah mengembalikan keseimbangan alam sesuai peruntukannya. (EJ)

About CM Community

Terima kasih telah berkunjung ke Blog kami. Berminat menulis disini? Kirim tulisan anda segera ke envirojournal@gmail.com.
Gallery | This entry was posted in Bencana, Global Warming. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Komentar Anda Disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s