Siapkah Technopreneur muda menjawab tantangan bangsa?

Oleh : Nurul Amin

Illustrasi

“Banyak perusahaan lebih mengutamakan kemampuan soft skill daripada indeks prestasi yang tinggi.” Demikian ditulis oleh Eny Endah Pujiastuti S. Sos, M.Si dalam majalah Info Kampus.

Pernyataan ini tertulis dalam pembahasan mengenai daya saing lulusan UPN “Veteran” Yogyakarta. Seperti diberitakan, sampai saat ini perguruan tinggi di Indonesia telah menyumbang 29, 95% dari total 7,41 % pengangguran di Indonesia. Angka 7,41 % itu mewakili 8.59 juta orang pengangguran diseluruh Indonesia. Waw…angka yang cukup lumayan bukan? Coba bayangkan jika angka sebanyak itu dikumpulkan dalam satu kota. Sebagai perbandingan, jumlah penduduk DKI Jakarta Februari 2011 adalah 8.524.892 orang (Sumber : BPS DKI Jakarta. Pen). Bisa anda bayangkan, jumlah pengangguran Indonesia lebih banyak daripada penduduk DKI Jakarta…!!! Fantastis…!!!

Mengapa begitu banyak pengangguran Intelektual?

Ada dua hal yang menjadi akar permasalahan. Pertama adalah mindset berpikir lulusan yang berorientasi “mencari kerja“. Mindsett ini sangat ditunjang oleh sistem akademik dan cara pembelajaran di kampus. Kebanyakan dosen memfokuskan diri pada masalah “bagaimana membuat mahasiswa cepat lulus, bisa menjawab soal ujian, dan diwisuda dengan IPK tinggi“. Minsett pencari kerja ini memupuk mentalitas buruh dalam diri mahasiswa. Dimana, pemikiran untuk mendapatkan pekerjaan dari suatu perusahaan mendominasi pemikiran dan perencanaan mahasiswa tersebut. Tidak terpikir untuk membuka lapangan kerja? pesimis dan tidak mampu karena menganggap itu hal yang susah, ditambah lagi tidak adanya kemampuan yang selalu diasah dalam proses pembelajaran.

Kedua adalah kompetensi lulusan yang tidak sesuai permintaan pasar. Hal ini berkaitan dengan erat dengan kurikulum pendidikan program studi terkait. Jika ditilik lebih jauh, disini sangat dibutuhkan kerjasama yang erat antara pasar dengan kampus atau sebaliknya. Sehingga kedepannya, lulusan perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhan pasar. Perlu digaris bawahi bahwa “sesuai kebutuhan pasar” tidak sama dengan menciptakan lulusan bermental buruh. Sesuai kebutuhan pasar artinya dapat berimprovisasi sesuai perkembangan masyarakat yang ada pasar itu sendiri

Bagaimana dengan Technopreneur bidang Lingkungan?

Dewasa ini permasalahan lingkungan merupakan masalah yang sangat populer dan sering dibicarakan. Isu lingkungan merupakan isu sentral selain isu politik, hankam, ekonomi, kependudukan dan isu penting lain. Dari fenomena ini, tersimpan potensi yang sangat besar dan belum banyak dimanfaatkan. Ini artinya dibutuhkan banyak ahli dibidang ini untuk mengisi ceruk-ceruk kekosongan peran technopreneur lingkungan diberbagai bidang kehidupan.

Dari cakupannya yang sangat luas, bidang lingkungan akan memberi banyak sumbangsih bagi kemajuan bangsa. Bidang lingkungan merupakan jembatan antara ilmu eksak dengan sosial. Bidang ini berpotensi memberi arah baru pembangunan Negara Bangsa. Dibidang ekonomi, bisnis, dan Industri, usaha-usaha yang mengedepankan aspek Lingkungan juga pantas untuk digali lebih dalam. Begitu banyak sektor yang selama ini belum digarap maksimal dapat dikembangkan.

Pertanyaannya, mampukah Technopreneur muda bidang lingkungan menjawab tantangan ini? Ataukah tantangan ini akan diambil oleh orang dengan disiplin ilmu lain, dan lulusan program studi bidang lingkungan hanya mengisi kekosongan diperusahaan-perusahaan? Misalnya menjadi karyawan di Chevron, Freeport, Exxon Mobil, Newmont, Antam, Petrochina, Pertamina, atau perusahaan pertambangan dan perminyakan lainnya?

Memiliki gaji besar, dan menjadi karyawan di perusahaan asing sejauh ini masih menjadi tujuan dari banyak calon lulusan program studi bidang lingkungan. Atau menjadi pegawai negeri dan mengisi jabatan di Instansi-instansi pemerintah dengan gaji standar namun memiliki tunjangan dan kepastian, itukah yang diharapkan?

Lalu siapa yang akan mengisi ceruk-ceruk kosong dibidang lingkungan yang sangat luas dan besar itu, bidang yang memiliki potensi luar biasa seandainya ada yang melihat dan menggalinya.

Sejauh ini, melihat kurikulum di Program Studi Teknik Lingkungan UPN “Veteran” Yogyakarta kita dapat berharap besar bahwa potensi ini tentu akan diisi oleh lulusan di bidang lingkungan, bukan orang lain. Namun, hanya sebatas kurikulum saja, hanya diatas silabus saja. Penanaman mentalitas technopreneur belum digalakkan, penanaman mentalitas pembuka lapangan kerja sangat minim. Bahkan calon lulusan cenderung diarahkan kepada mentalitas buruh, menjadi pekerja diperusahaan besar. Sungguh luar biasa, kita tidak termasuk salah satu penyumbang pengangguran…!!! (EJ)

About CM Community

Terima kasih telah berkunjung ke Blog kami. Berminat menulis disini? Kirim tulisan anda segera ke envirojournal@gmail.com.
Gallery | This entry was posted in Education of Nature, High School, Motivation Story. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Komentar Anda Disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s