Dilema sarjana yang baru wisuda

“Lepas dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya”

Istilah ini cukup relevan untuk menggambarkan nasib beberapa mahasiswa yang baru saja lulus (diwisuda.pen) di kampusku. Budi, 24 tahun (bukan nama sebenarnya) sudah lulus sejak tiga bulan yang lalu, April 2011, tetapi sampai sekarang, juli 2011 dia belum mendapat pekerjaan.

Siang itu, jumat (07/07) kami duduk dikantin, tempat biasa mahasiswa/i dijurusanku menghabiskan waktu sambil istirahat atau berbincang. Tidak jauh dari kantin, 100 meteran disebelah barat, ada ruang tata usaha. TU tempat biasa segala urusan administrasi diperlama dan dikelola. Didepan TU itu ada lima orang mahasiswa sedang asyik bercanda, sambil tertawa. Sebagian berdiri, mereka sedang mengurus administrasi. Dua orang diantaranya memakai pakaian putih celana hitam, pakaian yang biasa dipakai untuk Sidang pendadaran dan seminar kolokium.

“Sekarang saja mereka bisa tertawa-tawa, tunggu nanti sebentar lagi, pasti mereka rasakan seperti kurasakan ini” Kata Budi lirih, sambil tersenyum kecut

“mereka akan tau, itu hanya kenikmatan sesaat” Lanjutnya

Kami berdua tertawa, miris dengan keadaan ini. Ternyata ilmu yang kami tuntut sekian tahun di bangku kuliah tidak serta merta membuat kami dapat bekerja sesuai keinginan dan bidang keahlian yang kami coba kami pelajari dibangku perkuliahan. Tak sesederhana itu rupanya.

Teman-teman kami, yang sedang merasakan euforia itu sebentar lagi akan pendadaran, lalu dia akan diwisuda. Alangkah senangnya. Dia kira semua kesusahan saat kuliah akan berakhir.  Ya..!! memang berakhir, namun kesusahan baru sudah menunggu.

Begitu pilunya fatamorgana ini, kelak mereka akan mengetahui kenyataan bahwa semua tak seindah yang dibayangkan. Kepahitan mencari kerja, menganggur dan menjadi beban masyarakat sedang mengintai sarjana-sarjana yang baru lulus itu.

Sungguh suatu kegembiraan semu. Ternyata setelah berpeluh pilu dibangku kuliah, setelah tertawa senang saat diwisuda, kemudian harus puas hati melihat kenyataan bahwa lowongan kerja tak tersedia. Lulus saja ternyata belum cukup. IPK diatas tiga saja ternyata masih kurang. Dibutuhkan keberanian dan keberuntungan untuk menghadapi dunia yang sebenarnya.

Aku melihat sebuah adegan nyata dalam dunia kampus kita. Seorang sarjana yang kebingungan, pasrah dan tak berdaya. Saat itu aku tercenung, dalam pikiranku terngiang kata-kata : “Bagaimana jika aku yang ada diposisi itu?”.

Dunia pendidikan kita, yang telah disetting untuk menjadikan mahasiswa/i menjadi robot-robot pintar, ternyata tidak punya tempat untuk menampung robot-robot itu. Dunia pendidikan kita tidak membuat mahasiswa menjadi berani menatap masa depan. (Nurul Amin/EJ)

About CM Community

Terima kasih telah berkunjung ke Blog kami. Berminat menulis disini? Kirim tulisan anda segera ke envirojournal@gmail.com.
Gallery | This entry was posted in High School. Bookmark the permalink.

One Response to Dilema sarjana yang baru wisuda

  1. Nurul Amin says:

    hhmmmmmm….kasian betul

Tinggalkan Komentar Anda Disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s