Pentil Hilang, Ganti Nasi Kucing Lima Bungkus

Yogyakarta, 27 Juli 2011-Awalnya aku begitu bersemangat untuk jalan-jalan dengan sepeda. Sudah juga kuhubungi beberapa teman untuk berkumpul dan nongkrong bersama. Tapi, semua sirna dan berganti dengan rasa kesal beberapa menit kemudian

Cerita bermula saat aku mengeluarkan sepeda. Terlintas dipikiranku untuk memompa lagi ban sepedaku. “Ah, kempes terus” pikirku

Lalu muncullah niat untuk mengganti karet pentil sepeda itu. Kuyakini bahwa kempes ini disebabkan oleh pentil yang sudah longgar. Kebetulan dua hari yang lalu aku telah membeli pentil baru di sebuah toko sepeda.

Aku masuk kembali ke kamar, memotong karet seukuran sapu lidi sesuai panjang yang dibutuhkan. Kira-kira 3-4 cm  panjangnya. Aku kembali dan begitu bersemangat jongkok di dekat ban depan sepedaku.

Masih berjongkok, ku buka penutup pentil. Dengan pegangan yang longgar. Suara angin keluar dari dalam ban terdengar jelas dan begitu deras. Ku lepas pegangan.

Kukira semua angin telah keluar, ternyata masih banyak. Karena tekanan angin begitu kuatnya mendorong penutup pentil itu, akhirnya pentil sekaligus penutup pentilnya pun terbang.

Weeesss….!! Begitu suaranya melintas disamping pipiku

Hampir saja menabrak wajah, tapi aku segera mengelak. Ban sepeda pun langsung kempes. Pentil sepeda dan penutupnya raib entah kemana.

Aku mengikuti arah dia terbang tadi. Tapi tak mengira dia ada dimana.  Ah, sekarang sudah larut malam. Aku pun bergegas mengambil HP dan menghidupkan senternya. Tak ingin waktu jalan-jalanku malam ini terbuang sia-sia.

Kucari-cari ke segala arah. Sampai ke dapur, ke jalan, ke kamar. Sampai ke tempat-tempat yang tak mungkin dia ada disana. 30 menit kucari, hanya rasa kesal yang kudapat.

Ku bongkar kotak sepatu busuk beserta kaos kakinya yang busuk-busuk. Kertas dan debunya kusingkirkan satu persatu, berharap didalamnya ku temukan pentil sepeda. Tapi tak terlihat juga yang kucari

Sampai pada permukaan kotak itu, bukan pentil yang kudapatkan, malah bayi “tikus” yang sedang menggeliat. Sial…!! Dua ekor bayi tikus ternyata ada di tumpukan sepatu itu. Satu sudah mati dan membusuk, yang satu masih menangis-nangis mencari ibunya.

Empat puluh lima menit pencarian, hanya pentilnya yang kutemukan, penutupnya tetap dinyatakan hilang. Akhirnya pencarian kusudahi sampai disitu. Rencana jalan-jalan dengan sepeda malam itu kubatalkan. Kesal dan dongkol yang kudapat

++++++++++++++++++++++

Karena kesal itu. Aku bergegas ke Angkringan terdekat. Syukur angkringan mas Budi masih buka. Alhasil, kualihkan semua kesalku dengan makan nasi kucing lima bungkus, roti sebungkus, tahu dan tempe masing-masing satu buah, ditambah teh hangat satu gelas.

Kesalku hilang, dan berganti jadi kenyang. Akupun pulang dengan rencana pencarian baru besok hari. (Nurul Amin/EJ)

About CM Community

Terima kasih telah berkunjung ke Blog kami. Berminat menulis disini? Kirim tulisan anda segera ke envirojournal@gmail.com.
Gallery | This entry was posted in Motivation Story. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Komentar Anda Disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s