Menyalakan api di tanah basah

Api unggun

Yogyakarta, 15 Agustus 2011-Buat kamu yang suka berpetualang, camping, naek gunung, menjelajah rawa, atau bertualang ditengah kota tak dikenal mungkin sering menjumpai masa-masa kedinginan, atau saat-saat ingin memasak air atau makanan, tetapi kondisi tidak menguntungkan, dimana kamu tidak membawa kompor, ingin membuat perapian, tapi tanah basah.

Jangan khawatir, nenek moyang kita sejak dulu sudah bisa mengatasi masalah seperti diatas. Membuat perapian di kondisi kering barangkali sangat mudah, tapi di kondisi tanah basah, apalagi kayu dan bahan yang ingin dibakar juga basah, hal ini menjadi lebih sulit, tetapi tetap bisa dilakukan.

Bagaimana caranya?

Belajar menyalakan api unggun

Pada dasarnya sama dengan membuat api di tanah kering. Pada dasarnya pertama sekali, kamu harus punya sumber api, baik yang tradisional maupun modern. Kedua tentunya kamu harus punya bahan bakar, baik yang tradisional, ataupun modern. Baik yang konvensional, maupun yang disediakan oleh alam. Khusus untuk tanah basah, kamu butuh tambahan yang ketiga, yaitu alas yang kering. Dan terakhir, yang keempat, sebagai pelengkap, sebaiknya kamu memiliki sebuah pelindung untuk api yang kamu buat agar tidak tersapu angin

  1. Sumber Api
    Modern : Bisa dari korek api kayu, korek api elektrik dengan bahan bakar gas
    Tradisional : Pemantik api dari kayu dan senar, pemantik api dari kayu, dari bara api (jika ada)
  2. Bahan Bakar
    Modern konvensional : Minyak tanah, alkohol, bensin, spiritus, parafin, briket batubara, kayu api yang dijual, kertas, plastik dll barang industri yang mudah dibakar
    Tradisional alamiah : Kayu kering, dahan pohon, serasah daun, kulit pohon, bangkai hewan kering yang bisa dibakar, dan apa saja yang bisa dimanfaatkan untuk dibakar
  3. 3. Alas kering
    Bisa menggunakan batu yang disusun, kayu yang disusun, plat besi, seng, alumunium, krom atau kuningan. Tujuannya yaitu membatasi antara tanah yang basah dengan bahan bakar dan api yang dibuat agar tidak terpengaruh oleh air (basah/lembab).
  4. Pelindung angin
    Pelindung angin dapat dibuat dari ranting dan dedaunan yang disusun tegak berjajar di sisi-sisi yang terpengaruh angin. Tinggi dan lebarnya menyesuaikan dengan kondisi. Jika tidak memungkinkan menggunakan kayu, bisa juga menggunakan plat besi, alumunium, matras, kaih, atau apa saja yang dapat melindungi kobaran api dari tiupan angin. (note : hati-hati, jangan sampai api membakar pelindung, terutama jika menggunakan matras atau pakaianmu)

Cara membuat api / menyalakan api 

Caranya sama saja dengan membuat api dikondisi normal. Namun, walaupun kelihatannya mudah, banyak juga penggiat alam bebas yang tak bisa membuat api. Atau berhasil menyalakan api, tetapi sebentar kemudian mati lagi. Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat api :

Belajar membuat cikal bakal api

  1. Mulailah dengan membuat serasah atau racikan bahan bakar awal. Bisa menggunakan daun kering, atau menggunakan bagian kulit dan batang kayu yang diserut kecil-kecil. Hal ini adalah untuk membuat cikal bakal api.
    Menyalakan api dikondisi tidak normal membutuhkan sedikit kesabaran dan kehati-hatian, karena kondisi basah membuat bahan bakar menjadi sensitif. Kamu harus menghemat penggunaan sumber api-mu.
    Kayu besar tidak bisa langsung digunakan untuk membuat cikal-bakal api. Menyiram kayu besar dengan bensin, minyak tanah, atau alkohol hanya pemborosan saja. Dia akan menyala besar beberapa saat, lalu kemudian mati lagi setelah bensin, minyak tanah, atau alkoholnya habis terbakar, sementara cikal bakal api tidak melekat/membakar kayu utama.
    Oleh sebab itulah, sebaiknya dimulai dari racikan bahan bakar kecil-kecil, setelah api menyala lanjutkanlah dengan menambah bahan bakar pelan-pelan
  2. Menambah bahan bakar membutuhkan kehati-hatian, karena jika kamu salah dan tak hati-hati, api yang sudah kamu nyalakan dengan susah payah akan mati dengan sendirinya.
    Tambahkanlah bahan bakar secara bertahap, jangan sekaligus. Gunakan kayu yang proporsional, jangan yang terlalu besar, sesuaikan dengan besarnya api dan kondisi lembab.
    Untuk api pemula, gunakanlah ranting-ranting kecil yang cepat kering. JANGAN LUPA untuk memberi rongga udara, karena jika tungku/dapur pembakaran terlalu sesak/penuh, api juga akan mati dengan sendirinya. Hal ini dikarenakan pembakaran membutuhkan oksigen dalam prosesnya.
    Kebiasaan tidak sabar dengan menumpuk banyak kayu sampai tungku pembakaran penuh sesak seringkali dilakukan orang-orang. Padahal ini bukan tindakan yang benar. Hal ini karena ketidaktahuan pada konsep pembakaran. berikut penjelasan dengan kimia sederhana:
    C (unsur pada kayu bakar) + O2—–> Energi + CO2
  3. Jagalah api dari angin. Disini kamu akan memanfaatkan pelindung yang sudah kamu siapkan. Lalu kamu akan memasak air dan makanan yang semula kamu rencanakan.
    Api perlu dijaga kestabilannya. Sementara tiupan angin dapat membuat kestabilan kobaran api menjadi tidak stabil, sehingga energi yang dikeluarkan bisa terbuang percuma.
    Periksalah persediaan bahan bakar secara berkala, tambah bahan bakar jika diperlukan secukupnya.

Api yang telah menyala

Begitulah konsep sederhana bagaimana menyalakan api ditempat sederhana. Jika kamu berhadapan dengan kondisi ini, barangkali artikel ini dapat sedikit membantumu. Sekian dari saya. Terima kasih. (Nurul Amin/EJ)

About CM Community

Terima kasih telah berkunjung ke Blog kami. Berminat menulis disini? Kirim tulisan anda segera ke envirojournal@gmail.com.
Gallery | This entry was posted in Backpacking, Endeavours and tagged . Bookmark the permalink.

Tinggalkan Komentar Anda Disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s