Sendiri susuri Jogja-Sumbawa dengan Onthel

Pegal dan lelah, dua kata itulah yang kurasakan setelah dua hari lebih mengayuh sepeda. Kini aku telah tiba di Kota Nganjuk, kota Adipura.

Hari ini aku mulai perjalanan lebih pagi daripada biasa. Dingin angin pagi, tidak menggangguku menikmati panorama sawah di kiri dan kanan jalan sejak POM Bensin Moneng (tidak jauh dari pintu gerbang masuk kabupaten Madiun) pada jam 5.20 tadi. Pondok-pondok kecil dengan latar belakang permadani hijau sawah, serta siluet matahari pagi sungguh terlihat indah. Kadang ada burung sriti bermain diatas tumpukan jerami yang kering

Aku sudah beristirahat sebanyak dua kali sejak start, dan di warnet ini adalah istirahat yang ketiga. Jam 10 siang, saat aku tiba di Kota Adipura ini. Suasananya bersih dan terkesan rapi, walaupun lalu lintasnya tidak terlalu ramah untuk pengendara sepeda, apalagi dalam suasana mudik seperti sekarang

Hari sebelumnya, Jumat-26 Agustus 2011 aku mulai start jam 6.40 pagi. Sejak mulai jalan dari POM Bensin di depan pasar Jaka Tingkir, Sragen, sampai berhenti untuk istirahat malam di POM Bensin Moneng, Kab. Madiun tak terhitung berapa kali aku istirahat.

Hari Jumat itu aku singgah di Posko Lebaran gabungan antara Polres Sragen, Puskesmas Sragen, Pramuka, Dinas Perhubungan Sragen, dan TNI. Disana aku minta Peta Jawa tengah dan sekalian cek kesehatan. Ternyata tensi darahku turun sampai 100, kata Dokter aku kurang istirahat, lalu aku diberi beberapa multivitamin dan pereda lelah.

Hari pertama, Kamis 25 Agustus 2011 aku start pada jam delapan. Mundur dua jam dari waktu yang sudah kurencanakan. Padahal awalnya akan ada pelepasan dari depan kampus oleh teman-temanku, tetapi karena jadwalnya mundur, maka acara pelepasan itu ditiadakan. Jam satu malam, tanggal 26 Agustus, aku masih mengayuh sepeda. Aku sudah sampai di Sragen, dan bermaksud ke Polres Sragen untuk membuat Surat Jalan dari Kepolisian. Hari pertama itu sangat melelahkan. Akhirnya aku beristirahat malam pada jam 02.00 WIB setelah bersantai sejenak di alun-alun kota Sragen.

Perjalanan yang ibarat mimpi ini akhirnya kulaksanakan juga. Setengah bulan yang lalu aku mulai merancang dan mempersiapkannya. Berbagai usaha kulakukan. Berbagai tanggapan juga kuterima. Kini, tiba-tiba aku sudah ada di Kota Nganjuk dalam rangka mengunjungi Sumbawa, sebagai tempat persinggahan terjauhnya.

Hampir disetiap posko yang kusinggahi, ketika kujelaskan maksud dan asal-usulku ke posko itu, petugas selalu menanyakan apa motivasi atau tujuanku mengunjungi Sumbawa. Padahal kampung halamanku di Jambi, dan sekarang saatnya mudik, mengapa aku tak memilih mudik ke Jambi saja?

Dan Jawabanku selalu itu-itu saja, terlalu sederhana. Kukatakan aku hanya ingin melihat Indonesia lebih luas lagi. Melihat masyarakatnya, keindahan alamnya, sosio-kulturalnya, kebudayaannya. Sumbawa dan Lombok yang memiliki pantai-pantai yang indah, kata banyak orang lebih indah daripada pantai-pantai di Bali. Aku ingin melihatnya langsung, begitu jawabku.

Kini sudah sudah dua hari lebih perjalananku menuju Sumbawa. Masih ada sekian hari lagi di depan. Barangkali aku akan berlebaran di Bali atau di Banyuwangi dan sekitarnya (jika tidak ada penyeberangan ke Bali pada H-1 ID). Pada teman-teman, sanak saudara semua, dan keluargaku. Selamat merayakan Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Bathin

M2 Net Nganjuk-Jawa Timur
Rabu, 27 Agustus 2011 10.34 Am
*********************************

Setelah menempuh perjalanan selama 18 hari sejak tanggal 25 Agustus lalu, akhirnya kini saya sudah tiba kembali di Pulau Jawa. Sekarang saya ada di Kecamatan Kraksaan, Probolinggo, dalam perjalanan pulang ke Jogja. Sebelumnya saya telah mencapai Gilimanuk, Bali pada tanggal 31 Agustus pada pukul 12.55 WITA,  Pelabuhan Lembar, Lombok pada tanggal 02 September pukul 21.00 WITA, dan Poto Tano, Pulau Sumbawa pada tanggal 03 September 21.15 WITA.

Perjalanan pulang kembali ke Jogja saya mulai pada tanggal 05 September 2011 dari Dompu. Sampai di Pelabuhan Kahyangan, Lombok pada tanggal  06 September pukul 19.48 WITA, Tiba di pelabuhan Padang Bai, Bali pada tanggal 08 September pukul 22.43 WITA, dan tiba di Pelabuhan Ketapang, Jawa Timur pada tanggal 12 September pukul 19.30 WIB.

Perjalanan di Pulau Sumbawa tidak sepenuhnya saya lakukan dengan bersepeda. Hal ini dikarenakan saya akan menemui teman di dompu, yang akan kembali ke Jogja pada tanggal 05 September, sementara jika perjalanan itu saya tempuh dengan sepeda, kemungkinan saya akan sampai di Dompu pada 07 september 2011, karena jalan ke Dompu dalam keadaan rusak akibat perbaikan dan tanjakan yang begitu banyak, jadi tidak mungkin perjalanan kesana akan selesai dalam sehari. Alhasil, sepeda saya titipkan di rumah penduduk di daerah Utan, Sumbawa Barat dan saya pergi ke Dompu dengan Bus. Pulang dari Dompu, saya sempat bersepeda ke Taliwang dan bertemu dengan teman disana, setelah itu perjalanan saya lanjutkan ke Pelabuhan Tano.

Banyak sekali cerita suka dan duka dalam perjalanan bersepeda ini. Mulai dari melihat tempat-tempat wisata seperti situs dan museum Trowulan di Mojokerto, Melihat pantai-pantai yang indah seperti Pasir Putih dan Watu Dodol di Jawa Timur, Merasakan terik dan dinginnya Hutan di Taman Nasional Baluran saat siang dan malam, berwisata dan berjemur di pantai yang terkenal seperti Pantai Kute, Bali dan Pulau Gili Trawangan di Lombok, Menyaksikan ramainya lebaran Ketupat di Narmada dan Senggigi, Lombok, Menyaksikan banyaknya sapi dan kuda di Sumbawa, Melihat orang menambang dan mengolah emas di Taliwang, Sumbawa Barat, Menempuh teriknya matahari di pulau Sumbawa dengan bukit-bukitnya yang eksotik, panas, dan kaya akan mineral bernilai tinggi.

Ada suka tentu ada duka. Duka ini termasuk tantangan dan ujian untuk kesabaran selama perjalanan. Di Bali, saya sampai dua kali di kejar anjing kintamani saat melakukan jalan malam. Dua tempat itu adalah di Tabanan sebelum desa Rambut Siwi dari arah barat, dan di Jalan By Pass antara Klungkung-Gianyar pada saat perjalanan ke Denpasar. Di Jalur By Pass itu dua ekor anjing mengejar sambil menggonggong sampai sekitar 300 meter. Saya Hampir menabrak pembatas jalan karena konsentrasi saya pada jalan agak buyar karena ketakutan. Sementara di Tabanan, Kejaran dan gonggongan anjing menyebabkan ban depan saya terperosok ke lubang dan mengakibatkan rantai sepeda saya lepas.

Di Bali, saya juga kehilangan kamera pocket saat beres-beres setelah tidur di Pantai Kute pada tanggal 02 September pukul 05.45 WITA. Saya mencoba melaporkan pada petugas keamanan, tetapi hasilnya nihil. Maklum pengunjung pagi itu sudah lumayan banyak. Pada perjalanan pulang, kembali saya kehilangan plastik (kresek) berisi oleh-oleh yang saya beli di Narmada. Kehilangan itu baru saya sadari saat sampai di Gilimanuk saat ingin menyeberang ke Ketapang pada tanggal 11 September pukul 17.30 WITA.

Duka yang paling besar mungkin adalah lebaran jauh dari keluarga. Pada tanggal 31 Agustus saat sebagian besar umat Islam di Indonesia merayakan Lebaran Idul fitri bersama keluarganya. Saat itu saya sedang berjuang menaklukan meter demi meter hutan di Taman Nasional Baluran. ketika itu saya bangun jam 6 pagi, agak kesiangan dari rencana sebelumnya. Saya tidur di Pos Waru III milik Dinas Kehutanan di TN Baluran itu. Saya sampai di perkampungan terdekat di daerah Alas Rejo, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, ketika masyarakat disana baru saja selesai Shalat Idul Fitri di Mesjid. Saat itu mereka sedang menyalakan petasan tanda perayaan Lebaran. Sayang sekali, saya tidak sempat Shalat Idul Fitri di Mesjid terdekat. Alhasil, saya pergi ke POM Bensin terdekat dan mandi disana.

Selama perjalanan, sepeda saya nyaris tidak mengalami gangguan, kecuali di bagian batang as kayuhan dan karat yang diakibatkan oleh saat menyeberang ombak ke Gili Trawangan. Kondisi saya pun sampai hari ini masih kuat untuk melanjutkan perjalanan, saya optimis akan sampai di Yogyakarta 5-7 hari lagi. Namun biarpun begitu, ada juga yang saya khawatirkan selama perjalanan ini.

Jika pada perjalanan malam di Pulau Bali dan Sumbawa saya takut pada anjing jalanan, maka di Pulau Jawa yang saya takutkan adalah Bus dan truk malam. Saya memberi nama dua jenis kendaraan itu dengan sebutan “Monster Malam”. Selain suaranya yang menakutkan, Bus dan Truk malam juga menyebabkan angin yang seperti dapat menarik saya kearah mereka. Ditambah lagi suara klakson yang memekakkan telinga, Kecepatan yang tak terkira, dan ketidakpedulian pengemudinya terhadap pengguna jalan lain, termasuk pengguna sepeda. Biasanya mereka hanya menyisakan 30 sentimeter badan jalan untukku, atau bahkan seringkali tidak disisakan sama sekali sehingga aku harus menyingkir ke batu-batu disamping jalan utama.

Kini, dalam perjalanan pulang ini tujuan saya selanjutnya adalah Surabaya untuk melihat jembatan Suramadu yang terkenal itu, Lalu ke arah Mojokerto, ke Wonogiri, ke Pacitan untuk melihat pantainya, Ke Waduk gajah mungkur, dan langsung masuk ke Daerah Istimewa Yogyakarta lewat Wonosari.

Salam
Nurul Amin
Dari Ulil Zone Net di Kecamatan Kraksaan, Kab. Probolinggo
Senin, 12 September 2011 10.46 Pm
********************************

Akhirnya tiba juga di Jogja….!!!

Semangatku serasa mau meledak saat melihat pintu gerbang masuk ke Daerah Istimewa Yogyakarta di depan Situs Candi Prambanan. Gapura kehitaman dari batu gunung bersusun itu terasa beda, meski aku sering melihatnya. Kini dia menjadi pertanda bahwa aku telah sampai di tujuan terakhirku dalam perjalanan ini.

Selesai sudah petualanganku, melintasi jalur transportasi, mengunjungi beberapa tempat di sepanjang jalan Jogja, Bali-Lombok-Sumbawa dan kembali ke Jogja. Sampai tanggal 19 September 2011 sekitar jam sebelas itu, telah 26 hari berlalu.

Dari tanggal 13 September lalu, aku terus berjalan menjauh dari Probolinggo menuju Pasuruan, lalu memutar ke Sidoarjo untuk mencapai Surabaya. Dari Surabaya langsung menuju Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Caruban, Wonogiri, lalu sampai di jogja tanggal 19 September 2011.

Dari Probolinggo, target tempat yang ku kuknjungi adalah jembatan suramadu yang berhasil kucapai pada tanggal 15 September 2011 pukul 13.10 WIB. Untuk kesana, aku melewati Sidoarjo dan Surabaya. Malam hari tanggal 13 September 2011 pukul 21.28 aku sempat singgah di lokasi Lumpur Lapindo, menikmati minum kopi di salah satu warung pinggir jalan, dan naik ke atas tanggul untuk melihat-lihat. Lumpur dan tanggul ternyata permukaannya sudah hampir sama tinggi, berbeda jauh dengan bulan Januari 2011 lalu saat ku kunjungi bersama teman-teman dalam rangka Ekskursi Lingkungan Binaan

Di Surabaya, aku singgah sebentar di Putat Jaya, melihat langsung bagaimana kehidupan di Gang Dolly dan sekitarnya. Di kalangan muda, barangkali Dolly lebih dikenal dibanding yang lainnya di Surabaya. Ternyata kehidupan disana pada siang hari biasa saja. Orang berlalu lalang dan beraktivitas seperti biasa layaknya di tempat-tempat lain. Jejak kehidupan malam disana terlihat dari wisma-wisma yang tutup dan banyaknya tulisan yang menyediakan jasa tempat parkir.

Aku hampir tidak bisa tidur di Surabaya. Hal ini karena gangguan nyamuk yang luar biasa. Nyamuk-nyamuknya termasuk berukuran kecil tetapi sakit akibat gigitannya sangat luar biasa. Meninggalkan bentol kecil dan rasa gatal yang lama. Banyaknya nyamuk di Surabaya barangkali karena lokasinya yang dekat dengan pantai dan hawanya yang hangat, dan ditambah gorong-gorongnya yang banyak. Alhasil, setelah tidak bisa tidur meski telah berbaring dari tengah malam sampai subuh, akupun memutuskan pergi ke Taman Bungkul, menunggu terbitnya matahari disana.

Dari pagi sampai jam sebelas siang tanggal 15 September 2011 aku duduk di Taman Bungkul, lokasi wisata yang cukup ramai di kunjungi arek-arek Surabaya dan wisatawan domestik yang ingin berziarah. Setelah itu kulanjutkan perjalanan ke Suramadu

Sungguh Suramadu adalah karya yang megah dari tangan anak bangsa Indonesia. Diseberangnya terlihat sayup-sayup Pulau Madura. Pulau yang dikenal sebagai penghasil garam dan populer dengan karapan sapinya. Jembatan ini terlihat seperti benang yang membentang di selat madura, menghubungkan pulau Jawa dan Madura menjadi satu. Ingin sekali aku menyeberang kesana dan menginjakkan kakiku dan merasakan panasnya pulau itu. Sayang, waktu tak mendukungku, aku harus kembali

Dari Surabaya, aku langsung berbelok menuju Mojokerto, disana aku mengunjungi bapak tua yang ku kenal saat berangkat dulu, singgah di petilasan Raden Wijaya di Trowulan, dan terus melanjutkan perjalanan.

Pada malam hari di Mojo Agung, Jombang, aku sempat menemukan tas di tengah jalan. Barangkali tas itu milik seseorang yang tercecer. Aku bingung mau berbuat apa terhadap tas itu. Dua jam aku berpikir dan terdiam di jembatan tak jauh dari lokasi penemuan tas. Syukurlah pemiliknya kembali dan mengambil tasnya. Setelah mencocokkan STNK dan KTP di dalam tas dengan kendaraan dan nama orang itu, barulah aku percaya dia benar-benar pemilik sebenarnya. Aku pun pergi tanpa beban.

Roda sepedaku terus berputar. Menempuh meter demi meter perjalanan menuju jogja. Tinggal satu tempat saja yang ingin ku kunjungi, yaitu Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri. Untuk sampai kesana, aku harus memutar haluan agak ke selatan, tidak lewat jalur Caruban-Ngawi melainkan Jalur Caruban-Madiun Ponorogo

Bersusah payah aku melewati lalu lalang kendaraan di Jalur Nganjuk-Caruban pada malam hari. Tanjakan yang tinggi di Saradan yang dulu kulewati setengah mati pada siang hari, malam itu terasa biasa saja. Namun, kali ini tantangannya justru adalah bus malam dan truk gandeng besar yang berderet-deret seperti semut mengangkut makanan. Hampir tak ada putusnya mereka melintas. Ditambah lagi jalur Nganjuk-Caruban gelap gulita tanpa penerangan.

Aku beristirahat sejenak di pom bensin di desa Bagor, Kab. Nganjuk dimana disana aku bertemu dengan sesama petualang. Mereka menggunakan Vespa gembel (istilah yang populer untuk genre vespa seperti itu). Dua jam duduk bercerita dan berbagi pengalaman dengan dua orang pengendaranya. Mereka sedang memperbaiki mesin yang rusak.

Setelah fit, aku melanjutkan perjalanan. Butuh waktu dua jam lebih untuk menaklukkan keramaian truk dan bus malam demi mencapai kota Caruban. Dari pukul 21.49 WIBsampai pukul 00.28 WIB aku berjuang, ketakutan ditabrak bus dan truk atau tersungkur masuk ke jurang di pinggir jalan, akhirnya sampai juga.

Ternyata, masih ada tantangan lagi yang lebih berat. Hal ini kujumpai saat bermandi keringat akibat tingginya tanjakan di Purwantoro, Wonogiri. Tanjakan sudah dimulai sejak masuk perbatasan Jawa tengah. Tercatat, aku perlu dua kali istirahat yang cukup lama, bahkan sampai tertidur sebentar karena lelah, dan dua kali pula pakaianku basah dan kering dibadan. Sungguh tanjakan di Purwantoro, Wonogiri itu tidak akan kulupakan. Luar biasa

Aku sampai di kota Wonogiri pada tanggal 18 September 2011 pukul 13.00 WIB. Langsung saja aku menuju Waduk Gajah Mungkur yang tidak jauh dari kota. Sampai disana kurang dari satu jam kemudian. Senang sekali rasanya tiba ditempat itu pada siang hari. Meski jalan menuju kesana agak bergunung, namun semuanya terbayar oleh sapuan angin kencang disana. Waduk Gajah Mungkur terlihat luas sekali. Sekarang musim kemarau, jadi debit air di Gajah Mungkur sedang mengalami penyusutan sehingga beberapa bagiannya sampai dapat ditanami palawija oleh penduduk setempat.

Selain dimanfaatkan sebagai PLTA (pembangkit listrik tenaga air) dan kolam penampung cadangan air, waduk ini juga dimanfaatkan sebagai obyek wisata. Terlihat banyak warung dan pengunjung disana. Wilayahnya yang luas dan nyaris tidak ditumbuhi pohon besar menyebabkan angin leluasa bertiup. Cukup kencang, hingga bendera merah putih di sepedaku tak henti-hentinya berkibar.

Darisana, aku segera menuju Jogja. Seharusnya, dari sore pukul 16.00 WIB aku berangkat itu, ku prediksi malam atau subuh aku telah tiba di Jogja. Ternyata kenyataan berkata lain. Sore hari pukul 17.30 WIB sepedaku mulai bertingkah tak seperti biasanya. Saat itu untuk pertama kalinya aku memperbaiki sepeda secara serius. As tengah dekat pedal harus diganti karena aus, dan pelornya pun harus ditambah dan diganti yang baru. Aku singgah di rumah warga di Desa Tiaran Kec. Bulu, Sukoharjo-Jawa Tengah. Setelah memperbaiki sepeda dan beristirahat sejenak sampai selesai azan Maghrib, perjalanan kulanjutkan lagi. Aku masih berharap bisa mencapai Jogja pada malam hari.

Lagi-lagi sepedaku bertingkah. Kali ini rantainya kendor, sehingga setiap berjalan tak lebih dari seratus meter, rantainya selalu lepas. Aku berhenti di Polsek Bulu. Disana aku meminta cap surat jalan sekaligus memperbaiki sepeda sampai hampir jam sepuluh malam. Putus sudah harapan untuk mencapai Jogja malam itu. Akupun mencari pom bensin terdekat untuk beristirahat.

Pagi hari, tanggal 19 September 2011 Aku bangun sekitar jam lima. Sempat menikmati matahari terbit dan sarapan sate di pinggir sawah di desa Ringin Putih, Klaten. Semangatku hari itu lebih banyak dari biasanya. Pukul 11.25 Aku melintasi gerbang masuk perbatasan Jawa Tengah-Jogja. Aku mengayuh sepeda perlahan, merasakan angin yang panas siang itu menerpaku. Jam tiga sore, setelah singgah di Kantor kedaulatan Rakyat dan MAPOLDA Daerah Istimewa Yogyakarta, aku singgah di kampusku tercinta, UPN “Veteran” Yogyakarta. Di depan warung mas eko, beberapa teman dekatku sudah menunggu. Saat melihat gedung kaca Rektorat yang berwarna hitam itu, terlintas wajah teman-temanku melayang-layang. Aku membayangkan ekspresi mereka melihat kulitku yang hitam terbakar matahari. Ah, aku rindu bercanda dengan mereka. Selamat berjumpa kembali Yogyakarta, ujarku dalam hati.

Negeri kita, Indonesia sungguh terlalu indah untuk dilupakan. Rugilah orang yang hanya menghabiskan waktunya untuk memecah belah negeri ini. Setiap daerah di Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa punya keindahan yang berbeda-beda. Ramah tamah dan ketinggian budaya Jawa, Khasnya budaya dan pariwisata Bali, Begitu Indahnya Lombok-Gili trawangan, Kandang kuda dan bukit yang eksotik di Sumbawa takkan di Jumpai dimanapun.

Seorang teman dari Australia yang ku jumpai di kuta, bali mengatakan : “You live in paradise..!!”. Ya benar. Kita tinggal di Surga, mengapa harus kita sia-siakan kesempatan yang hanya satu kali ini. Mengapa harus kita rusak negeri yang indah ini. Jika wisatawan asing berbondong-bondong untuk datang menikmati indahnya alam, budaya, dan segalanya di Indonesia, mengapa kita harus berdiam diri.

Sampai jumpa di petualangan berikutnya
Nurul Amin
Yogyakarta
Rabu, 21 September 2011 07.55 Pm
********************************

Foto-Foto :

Foto juga dapat dilihat di link berikut :

Visit Java-Bali-Lombok-Sumbawa by Bike atau bergabung ke facebook saya dan lihat di album. Facebook saya

Video perjalanan saya :

Terima kasih telah membaca posting ini. (Nurul Amin/EJ)

About CM Community

Terima kasih telah berkunjung ke Blog kami. Berminat menulis disini? Kirim tulisan anda segera ke envirojournal@gmail.com.
Gallery | This entry was posted in Endeavours. Bookmark the permalink.

4 Responses to Sendiri susuri Jogja-Sumbawa dengan Onthel

  1. Lita chan lai says:

    Pengalaman yang menarik….
    Sukses buat perjalanannya….

  2. Setujuuu… Ada banyak tempat cantik di Indonesia yang harus dikunjungi. BTW: saya kmrin nggak kesampaian sepedaan di Baluran. Di sana cuma jalan kaki

  3. enviroleeb says:

    Wah sayang…tapi ga papa mbak..di baluran malam hari memang lebih indah dilihat dengan jalan kaki. Saya disana jam 5 sore sampai 8 malam kombinasi antara mengayuh sepeda dan jalan kaki. Lalu istirahat dan tidur di pos waru III. Makan khong guan (kue lebaran) dan makan nasi + mie sama pak Sei dan Pak Rendi penjaga pos tersebut.

    Bintang malam di Hutan Baluran itu indah bgt. Apalagi musim kemarau tidak ada awan yang menghalangi. Ranting-ranting kering dari Jati yang meranggas ditambah siluet biru langitnya memanjakan mata. hehe😀

  4. enviroleeb says:

    Terima kasih mbak Lita, di tunggu postingan dari pengalaman petualangannya mbak lita😀

Tinggalkan Komentar Anda Disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s