Alangkah Lucunya Negeri Ini : Sebuah Parodi, ironi, dan kritik sosial

Yogyakarta, 14 Oktober 2011-Film Alangkah Lucunya Negeri Ini merupakan sebuah parodi yang mengena sekali. Cara penyampaiannya yang santai dan dibarengi lelucon sungguh menohok hati. Itulah kelucuan yang terjadi di negeri kita.

Adegan dalam film ini dengan alurnya yang maju sungguh lucu, dan menyakitkan hati. Seorang sarjana Manajemen kebingungan mencari kerja. Melamar di perusahaan tidak diterima. Seakan 17 tahun menuntut ilmu sampai menjadi sarjana manajemen tidak ada artinya.

Mencoba berwirausaha beternak cacing malah ditertawakan tetangga. Masyarakat mengira sarjana manajemen akan langsung jadi manajer di perusahaan. Tidak gampang bagi Muluk, sang sarjana manajemen itu untuk menghadapi penilaian masyarakat.

Sama halnya dengan temannya yang sarjana pendidikan. Ketika mau melamar jadi guru, malah dimintai uang sogokan lebih dulu. Sampai akhirnya dia sampai pada kesimpulan bahwa “pendidikan itu tidak penting“.

Penolakan dan penilaian yang negatif terhadap Muluk, sang sarjana manajemen yang belum dapat kerja itu bukan hanya dari masyarakat sekitar, tetapi juga dari orang-orang dari lingkaran terdekatnya, yaitu keluarga dan calon mertua. Muluk menjawabnya dengan mencoba beternak cacing, tapi tanggapan dari keluarga dan lingkungannya tidak baik.

Muluk mencoba banting stir. Dia bekerja sama dengan kelompok pencopet. Dia mengelola uang dari hasil mencopet itu untuk diinvestasikan di bisnis lain. Namun tak gampang bagi Muluk untuk meyakinkan para pencopet itu. Awalnya dia dicurigai, tetapi berkat kerja kerasnya yang tulus akhirnya dia dapat diterima.

Syukurlah Kepala pencopet juga punya pandangan ke depan yang baik. Dia ingin anak-anak asuhannya dalam kelompok pencopet itu punya masa depan yang jelas. Makanya dia mau mempercayakan pengelolaan uang pada Muluk. Meski awalnya juga curiga, tapi dia tetap punya keyakinan dan harapan akan usaha Muluk.

Pertama-tama dia mengajarkan sistem manajemen pada pencopet, kemudian dia mengajak temannya yang sarjana pendidikan untuk mengajarkan pentingnya pendidikan pada para pencopet, lalu diajaknya lagi tetangganya, anak pak haji untuk mengajarkan pendidikan agama pada para pencopet.

Pada dasarnya Muluk dan kawan-kawan mencoba merubah pemikiran pencopet dan pekerjaan mereka secara bertahap. Uang yang dikelolanya itu diinvestasikan untuk dagangan asongan. Harapannya suatu saat pencopet itu akan beralih profesi dari mencopet menjadi pedagang asongan. Sehingga uang yang diperoleh adalah dari uang yang halal dan tidak merugikan orang lain

Melihat Muluk yang semakin sejahtera dan punya penghasilan, penilaian masyarakat semakin membaik, begitu juga dengan penilaian keluarga dan calon mertuanya. Sampai suatu ketika, ketiga orang tua (bapaknya Muluk, calon mertua, dan pak haji) datang mengunjungi tempat kerjanya Muluk. Mereka terkejut dan tidak bisa menerima bahwa penghasilan Muluk selama ini adalah dari uang hasil mencopet.

Padahal saat itu sudah ada kemajuan dari usaha Muluk untuk merubah keadaanpara pencopet. Sudah ada 6 kotak asongan yang tersedia dan akan ada 6 orang pencopet yang beralih profesi menjadi pengasong. Namun karena konflik dengan keluarga tersebut Muluk kembali sadar bahwa uang penghasilannya tetap saja dari uang yang tidak benar.

Muluk dkk pun berhenti bekerja sama dengan pencopet itu. Temannya yang sarjana memperingatkan Muluk agar tidak menyerah. Temannya itu baru saja menemukan arti dari hidupnya. Semangatnya kembali naik dan merasa bisa berharga bagi orang lain dengan mengajar pencopet-pencopet itu. Dia tidak ingin kembali pada kehidupan lama, yaitu bermain Gaple dan mengganggu orang. Menjadi sarjana pendidikan yang tidak kerja jadi guru dan dihina-dinakan orang. Tetapi Muluk tetap pada pendirian.

Di satu sisi, kepala Pencopet marah pada anak asuhnya, para pencopet. Dia sangat marah dan menyayangkan sikap anak-anak asuhnya yang tidak mau bekerja keras untuk berubah profesi, sampai Muluk berhenti dan sekarang tidak mengajar mereka lagi.

Dari beberapa anak asuhnya itu, ada segelintir yang sadar dan mengikuti ajaran-ajaran yang diberikan Muluk. Mereka adalah gerombolan pencopet pasar yang dikepalai oleh Komet. Mereka memilih untuk memanfaatkan asongan yang ditinggalkan Muluk. Namun sebagian lagi masih ragu dan tetap berprofesi sebagai pencopet.

Ending film ditutup dengan adegan Muluk melambaikan tangan dari Mobil Satpol PP. Dia ditangkap karena melindungi anak-anak pedagang asongan yang terjaring razia satpol PP. Adegan ini cukup mengharukan dan ironis.

Dari film ini dapat dipetik beberapa pelajaran :

  • Pendidikan di Negara ini belum menjamin lulusannya untuk dapat bekerja dengan layak.
  • Pelaksanaan UUD I945 pasal 34 yang berbunyi “Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara” masih jauh dari harapan. Realitanya justru fakir miskin dan anak terlantar ini dianggap sebagai sampah masyarakat dan harus disingkirkan agar tidak mengganggu ketertiban. Ini sungguh penanganan yang salah dari pemerintah.
  • Penegakan hukum di Negara kita memang seperti “pisau yang ditancapkan diatas meja”. Meminjam istilah yang dikemukakan Mahfud MD tersebut, penegakan hukum semakin tegas dan tajam untuk masyarakat bawah, dan semakin “bisa dipegang-mudah dikendalikan” bagi masyarakat atas.
  • Penilaian masyarakat juga harus diubah. Pada dasarnya penilaian negatif dan tanggapan negatif dari masyarakat ini adalah tantangan paling berat bagi sarjana muda untuk berkembang. Disamping itu juga mentalitas produk pendidikannya memang tidak kuat. Ketersediaan lapangan kerja juga berpengaruh besar.

Demikian sekilas bedah film Alangkah Lucunya Negeri Ini. Jika anda penasaran dapat menontonnya langsung dan menggali nilai-nilai kemanusiaan didalamnya. (Nurul Amin/EJ)

About CM Community

Terima kasih telah berkunjung ke Blog kami. Berminat menulis disini? Kirim tulisan anda segera ke envirojournal@gmail.com.
Gallery | This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

2 Responses to Alangkah Lucunya Negeri Ini : Sebuah Parodi, ironi, dan kritik sosial

  1. Aku suka film ini. Lucu dan ironis! Koruptor klo nonton film ini kesindir ga ya?

  2. enviroleeb says:

    Koruptor itu orang yang sudah tertutup pintu hatinya untuk sementara…
    Mereka tersindir, tapi balas menyindir..hahahhašŸ˜€

Tinggalkan Komentar Anda Disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s