Hari Pahlawan, apa artinya??

Jenderal Soedirman (doc detik.com)

Yogyakarta, 10 November 2011-Sudah berapa kali kita memperingati hari Pahlawan? Apa artinya selain sebagai seremonial pengingat bahwa hari itu diambil dari hari berdarah di Surabaya? Siapa yang tau, bahkan mungkin sudah banyak pemuda Indonesia yang tidak tau asal-usul hari 10 November itu? Tak tau siapa bung Tomo, tidak tau siapa yang menginvasi kita saat itu? Tak mau tau mengapa harus berkalang tanah?Tidak tau mengapa 10 November itu diperingati sebagai hari Pahlawan.

Makin lama, hari Pahlawan makin dilupakan. bahkan, baru saja aku menanyakan pada teman kosku.

“Wah besok hari Pahlawan ya?” Tanyaku.

“Ah masa, aku malah nggak tau” Jawabnya.

“Besok kan tanggal 10 November” kataku lagi.

“Oh iya ya” lanjutnya

Apa kabar pemuda-pemudi Indonesia? Generasi yang 65 tahun lalu begitu diharapkan oleh mereka-meraka yang gugur di medan berdarah, suatu generasi yang tidak memikirkan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk mereka yang hidup berpuluh bahkan beratus tahun kemudian. Apa kabar generasi yang terlalu dimanjakan teknologi modern? Apa kabar generasi yang tidak suka menjalani proses, maunya yang instan-instan saja?

Begitu mudahnya kita melupakan mereka-mereka yang membuat kita terbebas dari penjajahan gaya lama. Apakah cukup sekedar berdiri menundukkan kepala mengheningkan cipta? Semurah itukah pengorbanan pendahulu kita? Ya…mereka tidak minta balas jasa dari kita. Tapi kita lah yang harus tahu diri. Semua yang kita rasakan sekarang takkan kita dapatkan sekarang tanpa perbuatan mereka dulu

*************——–**************

Di Indonesia, gelar pahlawan biasanya diberikan setelah yang bersangkutan meninggal dunia. Kita baru menghargai pengorbanan orang-orang setelah yang bersangkutan terkubur didalam tanah, bahkan mungkin setelah jasadnya tak diketahui dimana rimbanya.

Kita bukan bangsa yang besar. Bangsa yang besar menghargai jasa-jasa pahlawannya, meski mereka kalah dalam pertempuran. Kita tidak. Kita tak menghargai jasa pahlawan. Kita menghargai hanya sekedar seremonial saja. Satu hari tanggal 10 Novenmber. Bahkan mungkin hanya beberapa menit dari hari itu saja, sekedar untuk mengingat dan menundukkan kepala, sebagai tanda penghormatan palsu. Lebih lagi bahkan ada yang tidak mengingatnya sama sekali.

Di beberapa negara, gelar pahlawan tidak hanya untuk mereka yang meninggal. Tidak setelah mereka meninggal, kemudian diberi gelar pahlawan nasional. Banyak gelar pahlawan nasional diberikan kepada mereka yang masih hidup. Contohnya adalah Lyudmilla Mykhailivna Pavlyuchenko, Sniper wanita legendaris dari Uni Sovyet. Tahun 1941 dia bergabung di militer, pertengahan 1942 dia dianugerahi gelar pahlawan Nasional untuk jasa-jasanya dalam perang dunia kedua. Saat itu dia baru berusia 25 tahun. Bandingkan dengan Jenderal Sudirman? Kapan beliau diberi gelar pahlawan nasional?

Ya..lagi-lagi bangsa kita punya pembenaran yang ampuh untuk menutupi kesalahannya. “Pahlawan tidak pernah minta untuk dikenang, tidak minta disebut-sebut atau diagungkan. Mereka berjuang tanpa pamrih. Hanya pahlawan gadungan saja yang minta disebut-sebut. Hanya pahlawan gadungan yang minta diagung-agungkan”

Melihat kondisi, menganugerahi gelar pahlawan kepada mereka yang masih hidup juga sangat tidak dianjurkan dinegara Indonesia. Mengapa? karena mereka yang berkuasa, semuanya akan menjadi pahlawan nasional. Bahkan mungkin satu keluarganya akan digadang-gadang untuk mendapat gelar itu. Bagaimana caranya ditempuh, beribu dukungan dicari, orang-orang fanatik dibayar untuk mendukung pencalonan jadi pahlawan nasional. Buku-buku yang baik dan semua tentang jasa-jasa penguasa bersangkutan dibuat. Ahli-ahli sejarah dipaksa menulis buku sejarah yang mendukung. Kacau….!!!

*********______*********

Lebih kacaunya lagi, karena semakin parahnya politik Indonesia, gelar pahlawan pun dijadikan alat politik. Bukan, bukan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa. Bukan untuk menaikkan moral dan Nasinalisme bangsa. Tapi untuk mencari uang oleh segelintir orang.

Tidak…sejauh ini kita tidak menghargai pahlawan nasional kita. Kita menghargainya jika ada untungnya buat kita. Jika tidak, jangan harap. Kita bukan bangsa yang besar. Kita hanya besar dalam hal luas negara, jumlah pengangguran, kemiskinan, penyakit sosial, dan banyak hal buruk lain. Kita masih bermental budak..!!! Bangsa yang tidak mau belajar dari sejarahnya sendiri. Bangsa yang lupa diri. (Nurul Amin/EJ)

About CM Community

Terima kasih telah berkunjung ke Blog kami. Berminat menulis disini? Kirim tulisan anda segera ke envirojournal@gmail.com.
Gallery | This entry was posted in Histrory. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Komentar Anda Disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s