Dosen “Voice Transfer of the Book” dan Dosen Monolog di TL Kampus Hijau

Yogyakarta, 18 November 2011-Book Voice Transfer atau seperti judul diatas “Voice Transfer of the Book” itu istilah yang saya buat sendiri.Saya menerjemahkannya menjadi “Buku yang diputar lewat suara“. Mengapa saya bilang dosen TL  UPiN (Tehnich Luwingkungan Universite Paling Ngeri) kampus hijau ini sebagai voice transfer of the book?

Untuk mendapatkan jawabannya, saya sarankan kepada anda untuk melihat sendiri. Coba anda masuk perkuliahan di TL UPiN, seminggu saja, tak usah lama-lama. Disana anda akan mendapati banyak dosen yang hanya mengajar dengan membaca slide dari proyektor yang kebanyakan dibuat dengan program microsoft power point, ada juga yang dengan program lain seperti flash player, dll.

Slide itu berisi intisari dari buku-buku. Poin-poin pentingnya ditulis dalam slide itu. Saya tidak bilang ini jelek. Mungkin untuk peserta didik sekelas SMA, atau yang baru lulus SMA, ini adalah hal baru dan menarik. Tapi bagi yang sudah berkali-kali melihat, rasanya sangat monoton dan membosankan. Apalagi jika kita mengingat bahwa pserta didik di TL kampus hijau adalah sekelas MAHASISWA, golongan yang katanya merupakan kelas pelajar tertinggi.

Syukur-syukur jika slide itu dijelaskan secara rinci, hingga peserta didik mengerti. Parahnya ada yang betul-betul hanya membaca slide tersebut. Ketika ditanya, ada dosen yang menjawab ngalur-ngidul, tidak sesuai dengan yang ditanyakan. Mahasiswa tanya A, dosen jawabnya Z. Jaka sembung naik ojek, ga nyambung jek…!

Persentasi dosen model ini tidak sedikit loh..!! Coba anda masuk tiap hari selama satu bulan hingga semua mata kuliah anda ikuti, hitung berapa banyak dosen seperti ini? Anda mungkin memperoleh angka yang tidak menyenangkan. Lebih dari 30%…!!! Tidak percaya? Silahkan buktikan sendiri.

Lebih parah lagi. Bukan hanya dosen baru saja yang menerapkan metode model ini. Dosen lama juga. Tidak perlu lah saya berlama-lama menjelaskannya, nanti saya dikira mem-fitnah atau menyebarkan informasi palsu. Lebih baik anda buktikan sendiri.

Dosen Monolog, Mahasiswa “Melongo”

Ohya, ada yang terlupakan. Satu hal lagi yang lucu dari model dosen d TL kampus hijau. Suatu hari saya masuk kuliah. Saya menyimak dan memperhatikan dari awal sampai akhir mata kuliah itu. Saya juga telah mencatat poin-poin penting dan beberapa pertanyaan yang ingin saya sampaikan. Saya tunggu-tunggu waktu untuk bertanya, tetapi ternyata si Dosen terus saja menjelaskan. Sampai bertumpuk-tumpuk menjadi tiga pertanyaan saya. Saya masih sabar, karena saya yakin pasti ada waktu untuk bertanya. Ternyata sampai kuliah bubar, waktu untuk bertanya itu tidak ada dan saya kecewa.

Anda pasti berpikir kenapa saya begitu bodoh tidak memotong penjelasan si dosen dan mau-maunya bersabar menunggu sampai waktu untuk bertanya diberikan? Saya juga berpikir begitu, kenapa saya bodoh sekali. Kenapa tidak langsung saya tanyakan saja ditengah penjelasan tadi.

Sabar dulu. Saat itu sedang berjalan mata kuliah yang berkaitan dengan etika, dan kita sepakati bersama bahwa memotong pembicaraan itu merupakan etiket yang tidak baik. Kata si dosen, jika ingin memotong pembicaraan telepon, tunggulah sampai si penelon berhenti berbicara. Lah..wong iki peneleponnya bicara terus…piye?? Nah disitulah masalahnya.

Di kampus ini memang biasa pengajaran monolog semacam itu. Perkuliahan di-setting seperti seminar. Okelah kalau dosennya ingat untuk memberikan waktu bertanya, kalau dia lupa? Siapa yang rugi?

Dosen monolog dan mahasiswa “melongo” adalah pemandangan biasa di ruang-ruang perkuliahan TL kampus hijau. Anda jangan membayangkan, apalagi membandingkan perkuliahan disini sama atau minimal hampir sama dengan yang sering tayang di TV atau seperti di kelas internasional UGM (Universite Gunung Madu). Jauh sekali…!!! Silahkan saja hitung berapa pertanyaan setiap perkuliahan. Jika ada sampai 5 pertanyaan saja, dan bisa dijelaskan pas oleh dosennya, itu sudah “Syukur Alhamdulillah” kata orang Islam.

Jadi, jika anda ada di perkuliahan di TL kampus hijau, anda seakan sedang berada di ruang seminar, atau bisa juga anda merasa sedang berada di ruangan teater, menyaksikan pertunjukan monolog. Tidak ada diskusi, tidak ada dialog antara dosen dan mahasiswa secara umum, yang ada mahasiswa “melongo”, mata terfokus kemana dosen bergerak. Sudah seperti melihat artis saja kan?

Anda tak percaya? Buktikan saja sendiri…!!! (Nurul Amin/EJ)

About CM Community

Terima kasih telah berkunjung ke Blog kami. Berminat menulis disini? Kirim tulisan anda segera ke envirojournal@gmail.com.
Gallery | This entry was posted in High School. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Komentar Anda Disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s