Teknik Lingkungan Cetak Ketua DPM Pertama (Wawancara Eksklusif dengan Rocky Reza Moniaga)

Rocky Reza Moniaga, Ketua DPM dari TL pertama

Yogyakarta, 19 November 2011-Tahun 2009 merupakan titik balik bagi keorganisasian di Teknik Lingkungan (TL) Universitas Pembangunan Nasional (UPN). Pada tahun itu, untuk pertama kalinya program studi yang masih muda ini menelurkan seorang ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UPN. Kepastian ini diperoleh pada Kongres IX KM UPN.

Mahasiswa TL yang beruntung itu adalah Rocky Reza Moniaga. Dia mahasiswa Teknik Lingkungan UPN angkatan 2007. Proses naiknya Rocky, begitu sapaan akrabnya, merupakan pemotongan generasi di KM UPN dan melalui proses negosiasi beberapa hari pada Kongres X KM UPN.

**************************

Berikut adalah hasil wawancara kami dengan Rocky Reza Moniaga :

Kabarnya anda adalah ketua DPM dari Teknik Lingkungan yang pertama? Bagaimana prosesnya kok anda bisa jadi Ketua DPM?

Ya benar. Saat Kongres itu saya dan Ipul (M. Syaifullah Nidjar. Pen) naik ke atas (Kaliurang. Pen) hanya untuk belajar saja. Kalau tidak salah waktu itu Kongresnya setelah PKK (pengenalan kehidupan kampus) 2009. Oleh Andi, selaku demisioner HMTL (himpunan Mahasiswa teknik lingkungan) saya dan Ipul disuruh jadi peserta Kongres karena saat itu belum ada pengurus HMTL yang datang.

Saat itu, Ipul menjadi peserta penuh menggantikan Ketua HMTL dan saya jadi peserta biasa. Pada hari pertama itu Kongres tidak mencapai kuota forum. Lalu malamnya ada rapat dengan senior-senior TL yang hadir di Kongres. Pada malam kedua, diputuskan bahwa TL mengirimkan delegasi untuk DPM, saat itu belum ada wacana bahwa saya bakal jadi ketua DPM.

Pada pagi harinya, oleh Andi, saya diberitahu bahwa harus maju sebagai ketua DPM. Saat itu saya belum ada pikiran untuk jadi ketua. Ternyata setelah saya  ketahui malam sebelumnya ada rapat yang memutuskan bahwa saya yang bakal naik. Saya kaget dan bingung. Saya menawarkan agar teman saya saja yang naik, yaitu Nurul Amin. Tetapi dia (Nurul Amin. pen) tidak bisa dikonfirmasi. Akhirnya mau tak mau saya yang maju.

Secepat mungkin saya dan Ipul mengadakan rapat darurat membahas masalah ini. Disepakati saya maju, dan Ipul mem-back-up massa di jurusan jika dibutuhkan untuk mendukung selama setahun.

Ya begitu lah kronologisnya. padahal ruang DPM letaknya dimana saja saat itu saya belum tahu.

Rocky memakai Korsa Teknik Lingkungan saat jadi relawan erupsi Merapi 2010

Menjadi ketua dadakan itu kan tidak mudah, apalagi sekelas DPM yang melingkupi satu universitas yang didalamnya juga banyak organisasi…bagaimana kiat anda menjawab tantangan ini?

Pengurus DPM periode jaman saya itu sering dibilang periode prematur, dan saya ketua prematur. Saya menganggap selentingan ini sebagai cambuk dan motivasi. Saya katakan: “Lihat saja akan saya buktikan dengan kinerja”.

Bahkan di jurusan, Saya sempat disidang semalaman oleh senior-senior TL. Mereka bilang “kamu jangan mempermalukan jurusan” dan berbagai kritik dan saran, ada yang memotivasi, ada yang menyayangkan. Bayangkan, semalaman suntuk…!!! Itu ada senior-senior tua dari angkatan pertama juga.

Senior menganggap TL belum saatnya naik sampai ke Universitas. “Di dalam saja belum beres, kok sudah mau keluar”, begitu kira-kira. Apalagi saat itu Saya dianggap sebagai tumbal untuk menyelamatkan keutuhan KM UPN. Bertambah berat lah beban dipundak saya. Tapi juga ada sebagian yang berpikiran bahwa sudah saatnya TL mengembangkan sayapnya lebih lebar lagi.

Saya yakinkan pada senior bahwa nama TL tidak akan jatuh dengan  saya naik keatas. Saya tidak akan permalukan jurusan, akan  Saya buktikan dengan kinerja yang nyata. Dan saya memang membuktikan ucapan itu..!

Saudara Rocky sejak awal naik jadi ketua DPM saja sudah ada setumpuk beban seperti itu, belum lagi beban-beban lain yang menjadi tugas DPM nantinya…Apa yang pertama anda lakukan untuk menyelesaikan beban tugas ini?

Pertama, tentu saya belajar mati-matian. Saya belajar kepada senior-senior yang dulu aktif di Organisasi. Bukan hanya senior TL, tapi juga dari jurusan lain yang dulunya merupakan pentolan-pentolan organisasi di UPN

Sebagai ketua prematur yang belum tahu kondisi KM UPN, saya cukup sadar diri. Saya tidak pernah malu untuk bertanya dan mendapatkan informasi yang saya butuhkan.

Karena jadi ketua DPM ini jabatan tertinggi pertama bagi saya, maka saya juga aktif mencari informasi tentang seluk belum DPM, dan bagaimana me-manajemen-nya. Baik dari demisioner DPM ataupun dari pejabat organisasi di kampus lain. Saya belajar dari siapa saja dan dari apa saja.

Pada awalnya saya masih menjiplak cara-cara yang dilakukan senior sampai akhirnya saya punya ritme sendiri. Tentu itu ada prosesnya sendiri.

Ketika anda sudah mulai memahami kondisi KM UPN, tantangan apa yang menurut anda menarik?

Yang paling menarik tentu menyatukan anggota DPM yang notabene-nya berasal dari berbagai jurusan dengan latar belakang berbeda-beda. Saya dituntut oleh masa adaptasi yang harus cepat.

Beberapa minggu setelah saya terpilih, KM UPN sudah ada hajatan besar, yaitu PKK. Jadi saat itu saya berkejaran dengan waktu.

Anggota DPM yang awalnya berjumlah 22 orang itu, hanya 14 orang yang menemani saya sampai di Kongres XI. Delapan orang lainnya terseleksi secara alamiah

Tugas menantang lainnya adalah mengakomodir pelayanan mahasiswa melalui DPM, menghadapi kritikan dan tuntutan dari organisasi-organisasi dibawah DPM di tingkat jurusan dan fakultas.

Yang lainnya mungkin adalah masalah membagi waktu. Sebagai pelayan mahasiswa UPN, tentunya saya harus mengutamakan kepentingan mahasiswa lain dibanding kepentingan saya pribadi.

Selama menjalankan tugas di DPM, menurut anda masalah apa yang paling pelik?

Pertama adalah menghadapi mosi tidak percaya dari senior-senior di TL, mosi tidak percaya dari jurusan-jurusan. Saat itu banyak jurusan yang menganggap pengurus DPM tidak independen dan mewakili kepentingan tertentu. Mosi tidak percaya ini saya anggap hal yang wajar mengingat saya adalah ketua yang naik secara dadakan, dan naik atas rekomendasi dari pihak tertentu di KM UPN.

Tetapi saya buktikan bahwa saya terbuka pada siapa saja, atau pihak mana saja. Saya tetap merangkul OK (organisasi kemahasiswaan) yang menurut banyak senior saya tidak perlu dirangkul

Kedua adalah membuat bargaining power dimata birokrasi. Setiap ketua yang baru wajib melakukan hal ini agar mempunyai kekuatan dalam memenangkan negosiasi-negosiasi dan memuluskan rencana.

Saya melakukannya dengan pendekatan pada berbagai pihak. Kepada Rektor, Wakil Rektor, BINWA (pembina mahasiswa), biro AAK (akademik dan kemahasiswaan) dan di jurusan-jurusan.

Menciptakan bargaining power ini bukanlah hal mudah. DPM perlu melakukan negosiasi yang pelik, menyelesaikan masalah-masalah, memberikan sumbangsih pemikiran yang berkualitas. Intinya bargaining power itu tidak didapatkan dengan meminta. DPM perlu menunjukkan kerja yang nyata dan pemikiran intelektual yang aplikatif dan netral.

Kepercayaan OK, Birokrasi, dan mahasiswa akan muncul dengan sendirinya jika suatu organisasi memiliki bargaining power yang kuat.

Ketiga yaitu menyelesaikan masalah rutin DPM, yaitu yang berhubungan dengan mahasiswa dan kasus-kasus insidentil seperti : Masalah dispensasi, Droup Out, perselisihan antar OK dan lain-lain.

Pengurus DPM 2009/2010 di Undip Semarang

Tentu selain beban, ada juga hal-hal yang seru yang anda dapatkan di DPM, bisa diceritakan salah satunya?

Yang paling konyol itu adalah saat pertama kali diusir Rektor UPN dari ruangannya. Saat itu saya dan Presma UPN menegosiasikan masalah PKK 2009. Karena kesalahan cara negosiasi, kami membuat Rektor marah, dan akhirnya diusir dari ruangannya. Apalagi saat itu bulan puasa, dan Rektor juga sedang menjalankan ibadah puasa.

Tapi dari kejadian itu saya mendapat banyak pelajaran. Kita harus tahu kondisi, situasi dan memahami lawan bicara kita saat bernegosiasi. Setelah itu, hampir semua negosiasi yang saya lakukan mendapatkan hasil yang tidak mengecewakan.

Kalau yang paling seru, sepertinya saat Studi Banding ke dua Universitas di Semarang, yaitu UNDIP (Universitas Diponegoro) dan Unissula (Universitas Sultan Agung). Dari Studi Banding itu saya mendapatkan perbandingan tentang OK di UPN dan posisinya di peta organisasi nasional.

Saya bersyukur karena Km UPN masih dapat menjaga netralitasnya terhadap politik praktis, dan masih punya bargaining position di dalam kampus. Bagi saya, saat itu KM UPN masih lebih baik daripada di dua universitas tersebut.

Saudara Rocky, anda sebagai alumnus dari salah satu organisasi tertinggi di kampus tentu memiliki pandangan tentang OK di UPN sekarang, bisa anda jelaskan?

Menurut saya sekarang ini kaderisasi OK-OK di UPN tidak berjalan dengan baik, sehingga pihak kampus mudah sekali mengeluarkan aturan-aturan tanpa pelibatan mahasiswa atau OK. Selain itu aturan-aturan itu juga ada yang merugikan mahasiswa, dan itu terabaikan oleh OK di UPN.

OK sekarang lebih suka melaksanakan event-event, terfokus untuk melaksanakan proker-proker dan kegiatan akademik. Sementara disatu sisi advokasi untuk keluhan-keluhan mahasiswa tidak berjalan. OK sekarang mirip dengan EO (Event organizer). Tidak ada yang berani menentang, atau mengadvokasi mahasiswa terkait kebijakan kampus yang merugikan mahasiswa.

Kabarnya anda dan teman-teman pada pemilu mahasiswa tahun 2011 lalu membentuk partai baru, dan tidak lagi menggunakan partai yang lama…apa alasan anda, kok berpindah partai, bukankah partai lama tersebut telah membantu membesarkan nama anda?*)

Saya dan kawan-kawan membentuk partai baru bukan karena ketidak-sukaan atau kekecewaan terhadap partai lama, seperti yang dikira oleh banyak orang. Pada dasarnya saya ingin menghidupkan suasana kompetesi dan menyemarakkan suasana demokrasi di KM UPN

Selain itu juga saya ingin merangsang animo mahasiswa UPN untuk aktif berorganisasi, termasuk organisasi yang membantu perkembangan pemikiran dan penalaran mahasiswa.

Pada waktu itu ada perubahan aturan di KM UPN, yaitu dengan munculnya Undang Undang Partai Mahasiswa dan revisi yang cukup banyak di aturan Pemilu Raya Mahasiswa. Dengan adanya UU ini, kesempatan untuk berkompetisi di KM UPN semakin terbuka. Kami salah satunya menanggapi kemunculan UU tersebut.

Di BEM sendiri seperti apa karir anda? Bukankah waktu itu anda sudah berbeda partai dengan Presma UPN?

Pada akhir-akhir kepengurusan memang saya sudah berbeda partai. Sementara diawal masih. Di dalam organisasi kita punya kedekatan emosional. jadi meskipun berbeda partai, kita tetap dekat dan selalu sharing.

Saya pribadi, selama di BEM itu tinggal aplikatif saja, sebab saya sudah khatam karakter birokrasi UPN, jadi saya lumayan tau celah-celahnya. Walaupun begitu, karena kesalahan koordinasi, ada juga beberapa kesalahan dan permasalahan yang tidak maksimal kami kerjakan.

Saya di Kementerian advokasi punya staff dari berbagai jurusan. Hampir semuanya enak diajak sharing dan kerja. Saat itu, selain karena memang kementerian ini yang menjadi ujung tombak BEM dalam melayani mahasiswa UPN, terlihat juga dalam rapat anggota kementerian kami termasuk paling aktif.

Anda memiliki banyak pengalaman selama menjalankan tugas di DPM, BEM dan sekarang juga masih aktif di partai anda, apa ada yang ingin anda sampaikan untuk memotivasi kawan-kawan yang masih bingung soal organisasi?

Tentu ada..!

Pertama, ketika kita berbaju mahasiswa, maka berpikirlah sebagai mahasiswa. Banyak kawan-kawan mahasiswa yang berpikir terlalu birokratis dan mirip birokrasi kampus.

Kedua, mahasiswa tidak pernah salah. Selama kita tidak melakukan tindakan kriminal, jangan pernah takut. Toh, bukankah kita masih belajar, jadi wajar dong kalau melakukan kesalahan? Saya selalu melakukan kritik, saya tidak takut karena saya punya acuan yang jelas, yaitu hukum dan dasar-dasar yang jelas.

Untuk mahasiswa TL saya berpesan, jangan pernah percaya dengan janji dan kata-kata manis dari birokrasi, karena birokrasi berpikir dengan acuan pikiran sebagai birokrasi. Kita mahasiswa harus terus memelihara sikap skeptis**), karena esensi dari mahasiswa itu adalah kritis. Skeptis dan tidak mudah percaya itu salah satu ciri-ciri mahasiswa. Jangan percaya sebelum melihat bukti yang jelas.

Dan jangan bangga dengan apa yang sudah dimiliki sekarang. Belajarlah untuk terus berpikir maju. Lihat realita yang ada bahwa mahasiswa masih tertindas (secara mental dan pikiran). Kita belum bebas. Jangan cepat merasa puas, berjuang terus.

Ok saudara Rocky, terima kasih telah meluangkan waktu untuk interview ini, semoga kedepannya apa yang anda harapkan dapat terlaksana dan semoga pengalaman anda ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi selanjutnya.

Ok..terima kasih kembali

*********************

Rocky bersama pengurus BEM menyampaikan LPJ BEM di Kongres XII

Demikianlah wawancara Eksludif dengan mantan ketua DPM dari Teknik Lingkungan UPN. Semoga bermanfaat dan menginspirasi anda untuk melakukan yang lebih baik. Salam dari kami. (Nurul Amin/EJ)

Curiculum Vitae :
Nama : Rocky Reza Moniaga
Pengalaman organisasi :
Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dua periode tahun 2001-2003, Wakil ketua Putra-Putri Altar (Sebuah organisasi di gereja Khatolik) dua periode tahun 2004-2006, Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan  (HMTL) Divisi Pengembangan Kreativitas Lingkungan (PKL), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) periode 2009/2010, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) KM UPN kementerian Advokasi periode 2010/2011, Partai Mahasiswa Revolusi (Mawar) dan Environment Journalist Community tahun 2010 hingga sekarang

Note :
*) : Sistem di KM UPN memilih Presiden Mahasiswa melalui mekanisme pemilu dengan sistem kepartaian
**) : Skeptis maksudnya tidak mudah percaya pada keadaan, curiga dan waspada pada situasi. Hal ini adalah sifat dasar seorang ilmuan. Baik ilmuan sosial ataupun alam (IPA)

About CM Community

Terima kasih telah berkunjung ke Blog kami. Berminat menulis disini? Kirim tulisan anda segera ke envirojournal@gmail.com.
Gallery | This entry was posted in Biography. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Komentar Anda Disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s