Jejak langkah si Jago Orasi dan manajemen situasi, M. Syaifullah Nidjar

Ipoel, saat Ekskursi di Semen Gresik, Tuban

Yogyakarta, 6 Desember 2011-Muhammad Syaifullah Nidjar, mahasiswa Teknik Lingkungan yang berasal dari Maluku Utara. Dia ketua Senat Mahasiswa FTM periode 2010/2011. Terpilihnya Ipoel, begitu sapaan akrabnya, sebagai ketua SMFTM merupakan yang pertama kali bagi mahasiswa Teknik Lingkungan. Sebelumnya, ketua SMFTM didominasi oleh jurusan Teknik Perminyakan dan Teknik Geofisika.

Kita akan mengenal Ipoel lebih jauh lagi melalui wawancara ini. Bagaimana lika-liku kariernya hingga terpilih menjadi ketua SMFTM pertama, bagaimana kisahnya mendirikan Partai Mahasiswa Revolusi, dan bagaimana sepak terjangnya dalam memperjuangkan Akreditasi Teknik Lingkungan, atau lebih khususnya Perpanjangan Ijin Penyelenggaraan Program Studi? Mari kita simak bersama.

****************

Sebelum kita melangkah pada pertanyaan yang lebih rinci, barangkali bang Ipoel bisa menceritakan pengalaman organisasinya sebelum di dunia kampus sekarang?

Saat SD, saya sudah mempraktekkan organisasi, diantaranya mengorganisir teman sebaya saya untuk melawan kakak-kakak kelas yang menjadi preman di sekolah. Biasanya di SD, anak kelas enam sering sewenang-wenang pada adik kelasnya yang kelas dua, tiga, atau empat.

Lalu saat SMP saya bergabung di OSIS (organisasi siswa intra sekolah), menjadi anggota di bidang politik dan kepemimpinan. Kelas dua saya menjabat sebagai ketua bidang ini. Lalu saat kelas tiga saya mencoba mengevaluasi kepemimpinan OSIS. Media yang saya pakai yaitu Majalah Dinding atau Mading. Saat itu ada tradisi di OSIS, setiap pejabat ketua demisioner otomatis menjadi dewan penasehat, nah bagian ini yang saya kritisi bersama teman-teman. Respon guru dan siswa lain cukup antusias ketika itu. Di kelas itu juga saya menjabat sebagai ketua MPK (Majelis permusyawaratan kelas) atau semacam MPR-nya OSIS.

Saat SMA, kelas satu saya menjadi anggota MPK OSIS, kelas dua menjadi ketua MPK dan kelas tiga saya tidak berorganisasi. Ketika itu anak kelas tiga difokuskan untuk menghadapi Ujian Nasional. Tetapi saya tetap terlibat dalam tim Kreatif kelas 3 IPA 4.

Cukup berliku juga perjalanan organisasi anda di Sekolah dasar-menengah ya. Lalu bagaimana dengan di dunia kampus?

Semester pertama, saya menjadi ketua Malam Keakraban (Makrab) Angkatan 2007. Tahun 2007-2008 saya terlibat aktif dalam pembentukan Ikatan Mahasiswa Kie Raha (IMAKIRA) Maluku Utara. Tahun 2008 saya menjadi anggota divisi Advokasi Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL). Tahun 2008 itu juga saya dan teman-teman di angkatan 2007 membentuk sebuah organisasi yang kini dikenal dengan nama EDM (Environment Disaster Management). Tahun 2010 saya menjabat sebagai ketua SMFTM, dan tahun itu juga saya dan kawan-kawan di TL bekerja sama dengan teman-teman di FISIP dan FTI membentuk Partai Mahasiswa Revolusi (MAWAR).

Bisa dibilang Curiculum Vitae anda, khususnya pengalaman organisasi terasa padat dan berwarna sekali. Ada beberapa hal menarik, terutama tentang EDM, SMFTM, dan Partai Mawar, bang Ipoel bisa menceritakan satu persatu, mungkin dari EDM dulu?

Saat itu saya masih menjadi anggota staff advokasi di HMTL. Saya merasa HMTL belum mampu mengakomodasi potensi mahasiswa kreatif di TL. Maka dari itu saya berinisiafif mendirikan sebuah perkumpulan. Tujuannya bukan untuk menandingi HMTL, tetapi lebih untuk menyalurkan kreatifitas, jiwa sosial, dan aspirasi.

Senior di TL merespon dengan beragam reaksi. Umumnya tidak suka dengan adanya organisasi baru ini. HMTL ketika itu menganggap EDM sebagai perkumpulan kontroversial yang kemunculannya dapat mengancam eksistensi HMTL.

Pada saat terjadi banjir besar di Bengawan Solo tahun 2008, saat itulah kami mendapatkan momentum. EDM dikerahkan untuk menyalurkan bantuan kepada korban banjir di Solo ini. Dan hasilnya cukup memuaskan. Nama EDM mulai berkibar, dan sambutan dari berbagai pihak, termasuk mahasiswa TL mulai mengarah positif.

Lalu tahun 2009, anggota EDM membuktikan loyalitasnya pada HMTL, salah satunya dengan mengonsep dan menyelenggarakan MUBES HMTL pertama yang sesuai standar Nasional. Perlu diketahui, sebelumnya MUBES HMTL kurang menarik, hanya dihadiri oleh beberapa orang saja. Padahal MUBES ini punya peran penting. Disitulah perubahan yang dilaksanakan oleh EDM dan simpatisannya. Saat itu, untuk menyelenggarakan MUBES tersebut, EDM hanya membutuhkan tidak lebih dari 10 orang yang loyal, dan berangkat dengan dana awal Nol Rupiah. Meski dengan keterbatasan itu, tidak ada yang tak mungkin. Konsep MUBES inilah yang dipakai hingga sekarang. Dalam MUBES itu juga EDM diakui sebagai organisasi Independen dibawah HMTL.

Nah, sebelum bang Ipoel menjadi ketua SMFTM, sepertinya prestasi mahasiswa TL di SMFTM hanya sampai pada batas Sekretaris Jendral, apakah memang ada motivasi dari bang Ipoel untuk menjadi Ketua SMFTM, dan bagaimana prosesnya?

Ketika itu tidak ada planing sama sekali untuk maju sebagai ketua SMFTM. Saat itu sudah menjelang PEMIRA di Keluarga Mahasiswa UPN. Rocky dan Isnan hadir di rapat salah satu partai Mahasiswa UPN dimana saya juga tergabung di partai tersebut. Pembahasannya berkutat tentang siapa bakal pengganti Isnan sebagai ketua SMFTM.

Setelah rapat, mereka menemui saya, dan terjadilah proses negosiasi. Saat itu saya menyepakati akan maju sebagai calon ketua, tetapi dengan beberapa syarat, yaitu : Bersambung……………Tunggu lanjutannya ya😀

****************

Lanjutan
6 Desember 2011-11.45. Am

  • Harus ada lawan tanding, sehingga memunculkan kompetisi
  • Tidak masalah apakah lawan itu dari satu partai atau dari partai lain, yang penting berbeda jurusan dengan saya

Rocky dan Isnan menyanggupi syarat ini, begitu juga dengan Alex, Ketua Partai yang dimaksud. Akhirnya pemilihan pun dilaksanakan, lawan saya saat itu adalah Ade dari Teknik Perminyakan. Saya menang dengan perolehan suara tidak terlalu jauh. Ade kemudian menjadi Sekretaris Jendral SMFTM di kepengurusan saya itu.

Selama di SMFTM, anda tentu sering berhadapan dengan Dekan FTM yang terkenal keras dan tegas pada pendiriannya. Apa ada punya kesan tertentu terhadap beliau? dan bagaimana pola komunikasi yang anda bangun dengan beliau?

Berhadapan dengan pak Koesnaryo membutuhkan mental yang besar. Beliau tampak dingin saat saya pertama bertemu. Tetapi semakin lama saya mengetahui beliau orang yang asyik diajak berdiskusi, dan saya mulai memahami karakter beliau. Dengan pak Dekan, saya sering berkoordinasi dan berkomunikasi dengan facebook. Dari sini terlihat sebenarnya beliau sangat fleksibel dan enak diajak berdiskusi.

Selama kepengurusan memang saya sering juga bersitegang dengan beliau. Maklum, saya punya darah muda yang meledak-ledak, sementara beliau orangnya cukup keras. Jadi saat kita tidak bisa bertemu pada satu alur pemikiran, biasanya terjadi hal seperti itu. Tetapi saya menanggapinya dengan dewasa, dan beliau juga seperti itu.

Komunikasi yang saya bangun adalah komunikasi kelembagaan, antara saya sebagai ketua SMFTM, dan beliau sebagai Dekan FTM. Tetapi tidak jarang pula saya berkomunikasi sebagai orang muda dengan orang yang lebih tua. Intinya kondisional, tergantung situasi dan pembahasannya.

Menjadi ketua SMFTM tentu tidak mudah, menurut anda masalah apa yang paling sulit dan paling sering dihadapi?

Saya maju sebagai ketua SMFTM dengan membawa amanat dari mahasiswa TL, terutama teman-teman dekat saya untuk memperjuangkan akreditasi TL. Disamping amanat subyektif tersebut, sebagai ketua SMFTM saya juga mengakomodir kepentingan jurusan-jurusan lain selain TL.

Masalah yang paling sulit tentu adalah menyatukan FTM dengan berbagai jurusannya yang mandiri. Terkadang ada arogansi berlebihan dari jurusan-jurusan di FTM. Arogansi inilah yang menghambat persatuan di FTM. Padahal jika melihat potensi, FTM adalah fakultas besar, yang apabila bersatu maka akan menjadi suatu kekuatan yang luar biasa, tetapi memang menyatukannya tidak semudah membalik telapak tangan.

Masalah yang paling sering dihadapi tentunya adalah masalah dispensasi. Masalah ini selalu ada setiap mendekati ujian. Selain itu masalah-masalah mahasiswa yang lainnya seperti recycle, urusan administrasi, nilai, dan lain-lain

Khusus masalah akreditasi TL, sejauh mana anda memperjuangkannya selama di SMFTM?

Sejujurnya, waktu saya di SMFTM memang banyak dihabiskan untuk masalah ini. Pada teman-teman pengurus SMFTM pun saya pernah mengatakan bahwa pada periode ini saya ingin memanfaatkan sebaik-baiknya wewenang saya di SMFTM untuk memperjuangkan Akreditasi TL. Teman-teman di kepengurusan dapat memahami hal ini, mengingat akreditasi TL memang sudah memasuki masa injury time. Jika tidak diperjuangkan habis-habisan akan fatal akibatnya. Ketika itu muncul isu bahwa tahun 2012 mungkin TL akan ditutup jika tidak terakreditasi.

Saya mulai menelusuri apakah isu tersebut benar. Ternyata isu tersebut cukup relevan dan didasarkan pada aturan DIKTI. Sejak tahun 2004, ketika keluar aturan akreditasi perguruan tinggi yang baru, apabila sampai tujuh tahun jurusan-jurusan belum terakreditasi, maka ada kemungkinan ditutup, atau tidak boleh mengeluarkan Ijazah. Ini bukan lagi isu, tapi adalah aturan yang nyata yang selama ini tak diketahui mahasiswa TL.

Selama ini, yang diketahui mahasiswa TL hanya akreditasi sedang dalam proses, tetapi sejauh mana progress-nya tidak ada yang tahu. Informasi ini seakan disembunyikan dan ditutup-tutupi, sampai akhirnya pada tahun 2008 ijin penyelenggaraan PRODI Teknik Lingkungan habis. Sampai akhir tahun 2011 ini pun akreditasi TL belum ada.

Saya dan teman-teman melakukan investigasi terkait masalah ini. Banyak mahasiswa ingin tahu dimana sebenarnya penghambatnya. Mengapa begitu lama? saya dan teman-teman ingin tahu secara jelas dan jujur. Bukan informasi yang manis-manis seperti selama ini kami dengar. Bukan kambing hitam yang ingin kami dengar seperti selama ini dijelaskan beberapa orang.

Akhirnya apa yang kami ingin tahu terbuka setelah beberapa bulan menelusuri, sampai beberapa kali saya dan teman-teman ke Kopertis wilayah V untuk mengonfirmasi masalah ini. Semua tampak jelas, bahkan begitu jelasnya kenyataan bahwa selama ini mahasiswa terkesan dibodohi. Sampai muncul perasaan tertipu oleh informasi yang dikaburkan, dibelokkan, disembunyikan tentang akreditasi.

Bagaimana tanggapan TL sendiri? baik mahasiswa maupun birokrasinya?

Sebagian mahasiswa yang mengerti tentu mendukung investigasi yang kami lakukan. Tapi sebagian lagi yang merasa dirugikan sangat tidak senang dengan apa yang kami lakukan ini. Padahal hasilnya juga dirasakan bersama beberapa saat kemudian. Ada juga yang tidak peduli, tetapi mengambil keuntungan dari apa yang saya dan kawan-kawan lakukan. Itu biasa lah

Sementara birokrasi TL tentu merasa kebakaran jenggot saat hal ini diungkap dengan jelas. Mereka tidak bisa lagi sembarangan bicara dan memberi janji-janji manis. Dalam bahasa birokrasi yang manis, terlihat bahwa mereka sebenarnya gerah dengan apa yang kami lakukan. Bahkan ada juga yang terang-terangan mengecam tindakan kami.

Hasilnya dirasakan bersama beberapa saat kemudian, maksudnya bagaimana bang Ipoel?

Investigasi yang kami lakukan jelas menimbulkan efek yang besar, baik di TL, universitas, bahkan di tingkat kopertis. Pak Windu, selaku orang yang bertanggungjawab men-sosialisasi-kan Borang Akreditasi di wilayah kerja Kopertis wil. V mengatakan akan memprioritaskan Prodi Teknik Lingkungan. Pernyataannya itu dikemukakan secara lisan kepada saya karena saya katakan bahwa mahasiswa TL sangat membutuhkan Akreditasi tersebut. Bersambung….Nantikan lanjutannya ya…!!😀

About CM Community

Terima kasih telah berkunjung ke Blog kami. Berminat menulis disini? Kirim tulisan anda segera ke envirojournal@gmail.com.
Gallery | This entry was posted in Organisasi kampus, Profil. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Komentar Anda Disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s