Hati-Hati Memilih Kampus (Pembukaan)

Sebelum menuju ke topik utama, saya ingin menyinggung sedikit tentang pendidikan tinggi secara umum. Sebagian besar pakar sekarang telah menyepakati bahwa lembaga pendidikan, baik swasta maupun pemerintah adalah penyedia jasa pendidikan.

Selayaknya sebuah penyedia jasa, lembaga pendidikan bisa dikatakan sebagai sebuah perusahaan yang produknya adalah jasa pendidikan, contohnya mengajar dan mentransfer ilmu dari dosen ke mahasiswa, itu adalah salah satu produk jasanya. Jasa pendidikan ini kemudian menelurkan lagi berupa ilmu pengetahuan dan teknologi. Baik Ilmu pengetahuan dasar maupun terapan.

Produsen-produsen jasa pendidikannya adalah dosen-dosen, yang berkumpul dalam sebuah lembaga, yaitu lembaga pendidikan. Seperti kebanyakan perusahaan, tentu di sebuah lembaga pendidikan juga terdapat aturan-aturan yang bertujuan untuk memperlancar sistem perusahaan, dalam hal ini bisa disebut sistem pendidikan.

Siapa konsumennya? Dalam hal ini, mahasiswa bisa dibilang adalah konsumen yang menggunakan jasa dari lembaga pendidikan tersebut. Selain itu masyarakat umum yang menggunakan atau memanfaatkan semua jenis item jasa yang disediakan oleh lembaga pendidikan juga bisa disebut konsumen. Misalnya Pak tani yang mengikuti seminar tentang pertanian bisa disebut konsumen.

Mahasiswa merupakan konsumen primer, sementara masyarakat umum seperti pak Tani diatas bisa dibilang konsumen sekunder.  Mahasiswa dikategorikan kedalam konsumen primer karena diasumsikan bahwa mahasiswa lah yang paling banyak dan utama dalam menggunakan jasa lembaga pendidikan ini, melalui kegiatan belajar di kampus contohnya.

Lembaga pendidikan mengkoordinir produsen-produsen ilmu, yaitu dosen untuk mengajarkan produk jasa pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi kepada konsumen, yaitu mahasiswa. Aturan-aturan dibuat untuk memperlancar jalur koordinasi dan menciptakan sinergi dalam rantai alir ini, menciptakan alur-alur birokrasi dalam lembaga pendidikan agar semuanya berjalan sesuai aturan. Aturan dan rantai birokrasi ini kemudian disebut sistem pendidikan.

Sebagai penyedia jasa yang mengikuti mekanisme pasar, tentu ada persaingan dengan penyedia jasa sejenis. Demikian halnya dengan lembaga pendidikan yang menyediakan jasa pendidikan. Bisnis bidang pendidikan tidak dimonopoli, karenanya banyak penyedia jasa yang dapat terlibat dengan berbagai produk unggulannya.

Untuk menarik konsumen, lembaga-lembaga pendidikan yang menjual jasa pendidikan ini melakukan promosi-promosi dan iklan. Keunggulan-keunggulan produk yang dihasilkannya di ekploitasi untuk menarik konsumen, berbagai cara dilakukan. Semua hal yang dapat menarik konsumen untuk menggunakan jasa dari lembaga pendidikan ini diinformasikan. Nyaris tidak ada yang menjual keburukan dari produknya, bahkan tidak ada penjelasan tentang itu. Kita memahami hal ini karena memang tidak ada perusahaan yang mau mengambil resiko “produknya tidak laku” karena memberi tahu keburukannya kepada konsumen.

Nah, disinilah kemudian muncul pertanyaan. Apakah lembaga pendidikan sekarang itu sudah menjadi perusahaan yang murni profit oriented, ataukah masih menyimpan nilai-nilai luhur yang tersirat dari kata “pendidikan” itu sendiri, yaitu untuk mendidik? Lalu pertanyaan ini berkembang lagi, apakah lembaga pendidikan yang murni profit oriented dibenarkan menjual keluhuran pendidikan? Tidakkah bisa dipisahkan antara lembaga pendidikan yang masih memegang nilai luhur pendidikan dengan yang profit oriented? Atau jika tidak bisa, bagaimana penggabungannya yang efektif dan tepat? Jika bisa, bagaimana sinergi keduanya (lembaga pendidikan yang murni untuk pendidikan, dengan yang murni profit oriented) dalam dunia pendidikan Indonesia dan bagaimana memadukannya kemudian agar tak terjadi persinggungan?

Apakah produsen-produsen di lembaga pendidikan, dalam hal ini dosen yang mengajar di lembaga pendidikan sama dengan pahlawan tanpa tanda jasa, seperti pepatah jaman dahulu itu? Ataukah produsen-produsen ilmu ini murni hanya para penjual ilmu? Apakah mereka sama saja dengan karyawan-karyawan di perusahaan jasa jenis lain, yang hanya bekerja untuk kepentingan uang, materi, atau kenaikan pangkat? Bagaimanakah tanggung jawab mereka terhadap konsumen, yaitu mahasiswa? Siapakah yang bertanggung jawab jika produk (IPTEK) yang dijual oleh Produsen (Dosen) tidak sesuai dengan tuntutan jaman, atau setelah dibeli oleh konsumen (Mahasiswa) dari sebuah penyedia jasa (lembaga pendidikan) ternyata produk itu tidak bisa digunakan? Dosenkah, atau Lembaga Pendidikan kah? Apa jaminan jika ternyata produknya tidak berkualitas, atau tidak sesuai dengan yang dijanjikan diawal kontrak?

Sebagai calon konsumen yang baik tentu anda perlu mencermati produk, penyedia produk, produsen, distributor, dan semua yang berhubungan dengan produk tersebut sebelum anda membelinya atau menggunakannya.

Disatu sisi, ada suatu kendala yang cukup serius, dimana calon konsumen untuk penyedia jasa pendidikan ini adalah para Pelajar SMA yang notabene-nya merupakan manusia yang tergolong masih labil, terutama dari emosi dan mentalitasnya. Segolongan manusia yang umumnya tidak sabar untuk melakukan penelusuran yang serius tentang lembaga pendidikan dengan berbagai produk yang dihasilkannya. Segolongan manusia yang masih begitu mudah terbuai dengan kata-kata manis orang yang lebih tua, atau yang terlihat lebih dewasa dan berwibawa. Segolongan manusia yang jarang sekali mau bercapek-capek mencari informasi menyeluruh terkait lembaga pendidikan dan produknya. Suatu golongan manusia yang di negara ini masih masuk dalam kategori “dalam bimbingan orang tua”.

Disisi lain, menyerahkan tanggungjawab penuh pada orang tua untuk memilih lembaga pendidikan yang baik juga bukan keputusan yang bijaksana. Orang tua calon mahasiswa barangkali memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dibandingkan anaknya. Namun, jika tugas pemilihan diserahkan bulat-bulat pada orang tua, ini artinya tidak memberi keleluasaan pada calon mahasiswa untuk menentukan pilihan sendiri.

Belum lagi melihat dari sisi kehidupan yang lain, bahwa yang akan menjalani proses pendidikan di lembaga pendidikan nantinya adalah si calon mahasiswa itu sendiri, bukan orang tuanya. Dan satu lagi, bahwa kebebasan menentukan pilihan di lembaga pendidikan tertentu sesuai minat dan bakat calon mahasiswa adalah benar-benar hak setiap manusia (calon mahasiswa) dan tidak bisa dipaksakan oleh orang lain, termasuk orang tuanya sendiri.

 Dari penjelasan diatas, tidak ada jalan lain lagi yang lebih baik dan bijaksana. Solusi yang paling mungkin dilaksanakan adalah menyerahkan tanggung jawab pemilihan dan penelusuran terhadap lembaga pendidikan dan produknya itu kepada calon mahasiswa yang merupakan konsumen dari penyedia jasa pendidikan. Orang tua dan pihak lain yang peduli dalam hal ini berperan dalam mengarahkan dan membantu penyediaan informasi terkait dan nasehat-nasehat yang bijak yang dapat dijadikan referensi oleh si calon mahasiswa selaku konsumen primer. Orang tua bertanggung jawab bertanggungjawab menyiapkan mental dan emosional anak agar bisa menentukan pilihan.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana jika si konsumen (calon mahasiswa) dan orang tua, atau pihak lain yang ingin membantu, tidak punya kemampuan untuk mendapatkan informasi yang memadai, tidak punya pengalaman dalam melakukan penelusuran? Tidak tahu poin-poin penting apa saja yang sebaiknya diketahui dari sebuah lembaga pendidikan yang menyediakan jasa pendidikan?

Apa solusi untuk calon mahasiswa di kampung-kampung yang tak tahu ganasnya belantara kota-kota sentra produksi jasa pendidikan? Apa solusi bagi calon mahasiswa atau orang tua yang menemani mereka, yang tak tahu akan menanyakan apa ke lembaga pendidikan yang dituju karena mereka memang udik dan kampungan, padahal mereka ingin memanfaatkan jasa pendidikan dari para penyedia jasa tanpa kecurigaan? Padahal mereka menyerahkan seluruh hasil panen tebu-nya untuk bisa menggunakan jasa pendidikan tersebut dengan harapan bahwa penyedia jasa pendidikan tersebut dapat menjamin mereka mencapai harapan?

Disini, kita tidak akan membahas terlalu jauh apa yang akan terjadi pada si Angelina yang anak pengusaha sukses, atau si Wijaya Kusuma yang anak pengusaha minyak. Mereka berdua, walaupun orang tuanya susah membagi waktu, dan selalu sibuk kerja sampai tidak ada waktu untuk mereka dirumah, setidaknya dua orang ini punya kelebihan materi. Mereka sekolah di SMA yang bagus di kota besar, punya kendaraan pribadi untuk kemana-mana, punya handphone mahal untuk menghubungi semua koneksi dan punya laptop untuk mengakses informasi, dan juga sudah terbiasa dengan dunia internet.

Mereka berdua (Angelina dan Wijaya Kusuma) punya sesuatu yang memungkinkan untuk mencari informasi-informasi tentang penyedia jasa pendidikan dan produknya yang berkualitas. Mereka punya jaringan pertemanan yang tahu dan dapat dimintai bantuan untuk mendapatkan informasi tersebut. Dan seburuk-buruknya, mereka punya materi untuk melakukan hal tersebut.

Tetapi bagaimana dengan si Udin, anak gembala kambing di Bengkulu, yang setelah sekolah mengurusi kambing-kambingnya. Tidak pernah ke kota, dan tak pernah berinteraksi di Internet? Bagaimana dengan si Thomas yang sekolah diatas gunung Jayawijaya, dataran tinggi yang jauh di pedalaman Papua, yang orang tuanya tidak pernah sekolah? Bagaimana dengan si Bejo yang setelah sekolah membantu ayahnya di kebun? Bagaimana dengan si Ode yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama asinnya air laut daripada di bangku sekolah?

Mereka ini, orang miskin yang punya cita-cita tinggi. Tapi dipaksa keadaan ekonomi yang buruk untuk menghapus cita-cita dari ingatan? Mereka tidak punya kendaraan sendiri. Tidak tahu apa yang dimaksud dengan internet. Mereka hanya sekolah, lalu bekerja membantu orang tua. Sesekali ketika menonton televisi, terbersit juga cita-cita untuk melanjutkan sekolah dihati mereka, tetapi hanya sebentar, karena sapi-sapi si Udin segera memanggil untuk makan rumput, karena si Thomas harus segera melintasi bukit-bukit berkilometer untuk sampai ke rumah, karena rumput-rumput di kebunnya si Bejo menunggu untuk dibersihkan, karena jika mereka tidak bekerja, artinya hari ini makanan mereka akan berkurang.

Jika orang-orang seperti ini datang ke sebuah kampus, mungkin saja mereka akan terpaku dan diam. Celingak-celinguk tak jelas, bingung dan setengah takjub dengan suasana baru. Terpesona dengan kemegahan beberapa kampus di kota besar. Bingung akan melakukan apa, dan kemana untuk bertanya. Si Ode barangkali akan malu, karena baju yang dipakainya terlalu lusuh dan berbau keringat bercampur bau matahari. Mereka datang kesana berdasarkan petunjuk sebuah brosur yang entah kenapa dia temukan di jalan. Dan entah bagaimana pula dia bisa sampai ke kampus tersebut.

Adakah calon mahasiswa yang seperti ini? Pada siapa mereka akan bertanya? Informasi seperti apa yang mereka butuhkan dan seharusnya mereka dapatkan? Siapa yang bertanggung jawab memberikan informasi yang benar dan akurat? Apakah ada kemungkinan dia akan dibohongi terkait informasi-informasi yang seharusnya dia dapatkan? Syukur-syukur mereka tidak langsung berkenalan dengan calo-calo penyedia jasa pendaftaran mahasiswa baru yang pasti akan menipu mentah-mentah dengan seribu janji manis untuk menguras segala yang mereka bawa dari kampung, terutama uang. Semoga calon mahasiswa seperti si Ode itu, jika datang ke kampus, bertemu dengan orang yang tepat.

Semua pertanyaan ini barangkali tidak akan terjawab dan akan tetap menjadi pertanyaan yang mengambang di awan, atau diatap kampus-kampus yang megah, tanpa ada satu orangpun yang mau mengambilnya, apalagi berusaha menjawabnya. Dan si Ode tetap diam tanpa mendapatkan informasi, atau dia akan pulang dengan semangat dengan beberapa informasi menggembirakan yang dikemudian hari dia sadari sebagai informasi palsu.

Buku kecil ini, mungkin tidak sampai ke tangan Ode, Bejo, Thomas, atau si Udin, tetapi semoga semangat dari buku ini dapat terbang bersama angin menyampaikan pesan kepada orang-orang, calon mahasiswa bernasib kurang baik seperti mereka. Ketidaktahuan akan informasi mengenai produk, tidak terkecuali produk dari penyedia jasa pendidikan, dapat berakibat fatal dan ber-implikasi jangka panjang.

Buku kecil ini tidak hanya dibutuhkan oleh konsumen dari penyedia jasa pendidikan seperti si Ode, lebih luas lagi sebenarnya informasi ini dibutuhkan oleh semua calon konsumen yang ingin memanfaatkan jasa dari penyedia jasa pendidikan. Baik itu untuk si Angelina yang anak pengusaha sukses, Wijaya Kusuma yang anak “Bos Minyak”ataupun untuk si Sunarti yang anak Pegawai Negeri Sipil (PNS). Lebih jauh, buku ini bisa saja bermanfaat bagi Joni yang bapaknya berjualan batik di pasar Beringharjo, Yogyakarta, bisa bermanfaat untuk si Adam yang tinggal sebatang kara sekolah sambil kerja di Bandung, dan bisa untuk siapa saja yang masuk dalam kategori calon mahasiswa, konsumen primer dari Penyedia Jasa Pendidikan, baik yang baru lulus dari SMA, masih sekolah di SMA, yang baru saja lulus ujian paket C ataupun yang sudah sejak lama lulus dari SMA tetapi baru ada niat untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

***************************

Poin-poin penting dan uraian yang nanti akan diulas dalam buku ini mungkin bukanlah keseluruhan dari apa yang harus diketahui oleh konsumen dari Penyedia Jasa Pendidikan. Masih banyak lagi yang harus anda dapatkan sebelum memutuskan untuk memilih lembaga pendidikan tertentu.

Mendapatkan semua informasi yang menjadi target dalam tulisan dibuku ini juga tidak menjamin anda akan berhasil meraih sukses. Seperti membeli barang di toko, keahlian anda dalam memilih juga akan berpengaruh. Jika anda membeli sebuah jasa, maka proses yang anda lalui juga akan berpengaruh. Intinya berpulang kepada anda sendiri. Informasi dan arahan disini hanyalah sebuah saran dan pengetahuan awal anda. Mulai dari lembaran ini, kita akan membahas satu persatu informasi  apa saja yang perlu anda cari dan ketahui sebelum menggunakan jasa dari Penyedia Jasa Pendidikan.

Nurul Amin/Environment Journalist

About CM Community

Terima kasih telah berkunjung ke Blog kami. Berminat menulis disini? Kirim tulisan anda segera ke envirojournal@gmail.com.
Gallery | This entry was posted in Buku. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Komentar Anda Disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s