Pancasila yang (Tidak Lagi) Sakti

Yogyakarta-08 Oktober 2012-Hari Kesaktian Pancasila sudah lama berlalu. Itu tidak membuatku menghentikan tulisan ini. Entah mengapa aku ingin segera menyelesaikannya.

Mengenai keabsahan hari Kesaktian Pancasila yang prosesnya cukup kontroversial itu, siapa yang peduli. Mungkin hanya 0,00xx (nol koma nol nol sekian) orang Indonesia yang peduli.

Apalagi tentang peristiwa lewat tengah malam tanggal satu oktober itu, bahkan banyak sejarawan pun tak terlalu peduli.

Kita tidak akan membicarakan masa lalu yang kelam itu. Lembaran sejarah hitam, kotor, yang tidak banyak orang mau memperbaikinya, atau setidaknya menjelaskan sesuatu sebenarnya. Bahkan orang-orang menjadi bingung dengan kenyataan, apa yang sebenarnya terjadi saat itu.

******

Pada dasarnya falsafah Pancasila adalah suatu masterpiece yang luar biasa. Falsafah hidup yang mengandung banyak makna tentang keseharian dan karakter asli yang luhur dari bangsa ini.

Namun, seketika itu juga, kita menyadari bahwa Pancasila bukanlah pandangan plural. Jelas sekali pada Sila Pertama, hanya orang yang ber-Tuhan saja yang termuat di dalamnya. Artinya falsafah ini dengan serta merta menolak setiap orang Indonesia yang tak bertuhan.

Akan tetapi kita tanggapi santai saja. Hal ini tidak terlalu mengikat karena sampai sekarang tidak seorang pun tahu siapa Tuhan sebenarnya. Semua bisa jadi Tuhan, tergantung dari siapa yang menyembahnya.

Kini uang dan kekuasaan adalah Tuhan yang baru, yang tak seorangpun bisa menolak. Kita menampik hal ini dengan berbagai pandangan suci, tapi realita berbicara demikian.

Kadang wanita menjadi Tuhan. Kadang pohon besar menjadi Tuhan, kadang lautan menjadi Tuhan, kadang Gunung Api menjadi Tuhan. Apapun bisa jadi Tuhan.

Tuhan tidak menentukan siapa yang berhak menjadi Tuhan. Tetapi manusialah yang membuat Tuhannya masing-masing. Sesuai dengan keyakinan absolut mereka.

********

Kita kembali ke judul. Pancasila yang (Tidak Lagi) Sakti.

Ketika aku membayangkan makna judul diatas, aku terbentur pada beberapa pertanyaan. Kapankah Pancasila pernah mencapai kesaktiannya? Apa saat itu memang pernah terjadi?

Jika oktober 1965 itu merupakan momen Kesaktian Pancasila, dimana dia mampu mengatasi insiden berdarah saat itu dengan pertumpahan darah juga di kemudian hari. Apakah itu yang disebut Kesaktian Pancasila?

Mengapa Pancasila tidak mengeluarkan kesaktiannya pada 80.000 orang yang dibantai di Bali? tetapi justru mengeluarkan kesaktiannya pada insiden yang direkayasa, yang sampai sekarang hantu-hantu pun tidak tahu kebenarannya?

********

Sila-sila dalam Pancasila memang kata-kata luarbiasa sarat makna. Pandangan jauh ke depan yang dalam dari para founding father bangsa ini.

Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sungguh kalimat-kalimat luar biasa. Tujuan sebuah bangsa yang luhur dan sulit sekali tercapai. Bahkan untuk mencapainya secara sempurna bisa dikatakan sebagai suatu yang utopis. Ditengah masyarakat yang super majemuk seperti Indonesia.

*******

Kita lihat sekarang.

Ketuhanan yang Maha Esa.

Secara garis besar, Pancasila mengandung keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada penjelasan secara rinci, apa yang dimaksud dengan Tuhan. Apa itu Tuhan? Masing-masing orang memiliki hak sendiri-sendiri tentang keyakinannya.

Apakah Tuhan itu seperti yang diakui oleh mayoritas orang, kelompok-kelompok besar. Ataukah kelompok minoritas atau bahkan orang secara individual boleh memiliki Tuhannya sendiri. Berbeda dari kelompok mayoritas?

Bapak Bangsa kita telah melihat bahwa kecenderungan orang Indonesia adalah menyembah sesuatu yang menurutnya pantas disembah. Apakah itu Batu, Gunung, Api, Laut, seperti yang disembah orang-orang zaman dahulu. Ataukah Tuhan seperti persepsi agama-agama besar mengenai Tuhan Yang Maha Agung. Ataukah Pengetahuan, Ideologi, Uang, materi, kekuasaan yang menjadi Tuhan bagi banyak orang jaman sekarang. Itu adalah haknya masing-masing.

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Masyarakat dan pribadi tidak bisa lagi membedakan yang mana benar yang mana salah. Mana kebenaran dan mana pembenaran. Mana kenyataan, mana rekayasa. Semua menjadi begitu absurd.

Sehingga memperlakukan diri sendiri dan orang lain berdasarkan kehendak egosentris belaka. Tidak lagi mengacu kepada nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan adab.

Menjadi manusia yang adil sejak dalam pikiran, seperti tertulis dalam buku Pram, yang memperlakukan diri sendiri dan orang lain dengan rasa keadilan. Manusia yang mengerti, memahami dan mempraktekkan “Tepa Selira’ dengan baik. Sungguh manusia yang susah ditemui.

Manusia yang melihat orang dengan tidak segera menjustifikasi, tetapi melihat segala proses dan alasan dalam penilaiannya. Dimana manusia seperti itu akan ditemui?

Manusia Indonesia beradab? Kapan manusia Indonesia pernah seperti itu? Darimana kita menilai masyarakat Indonesia memiliki adab?

Jika Founding Father merumuskan Pancasila dari Intisari setiap orang di bumi Indonesia ini, dimanakah dia menemukan hal itu? Mungkinkah mereka mengambilnya dari nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal yang sekarang mulai ditinggalkan?

Kita melihat sekarang, secara keseluruhan, kerusakan adab begitu luar biasa. Hingga orang dapat mengatakan bangsa Indonesia mulai mengarah menjadi bangsa yang tidak beradab. Pejabat korupsi dimana-mana, merata di seantero wilayah Indonesia. Video porno juga telah diterima dengan lapang dada, dianggap hal biasa, dan penyebarannya merata seperti jamur cendawan di musim hujan. Apakah kita masih dapat mengatakan dua hal itu tidak mewakili apa yang sebenarnya terjadi sekarang? Bahwa adab dan moral kita mulai rusak?

Persatuan Indonesia

Apakah dua kata ini hanya kata-kata paksaan untuk menggambarkan bahwa kita solid dan tetap bersatu?

Apakah sebenarnya daerah-daerah juga menginginkan hal ini terjadi? Apakah hal baik yang diterima dengan persatuan ini, jika tidak bersatu lebih memberi manfaat?

Barangkali persatuan hanya kata-kata yang dipaksakan ketika kita terlepas dari penjajah. Mungkis saja pembahasan ketika itu belum selesai. Rakyat belum sepenuhnya mengerti apa itu persatuan Indonesia dan apa konsekuensinya. Bagaimana jika tidak bersatu dan bagaimana konsekuensinya.

Ketika negara ini terbentuk, apakah daerah-daerah benar-benar ingin bersatu secara mutlak, ataukah mereka hanya memanfaatkan momen kemerdekaan untuk lepas dari Belanda dan kemudian membentuk Negara baru diluar Indonesia? Barangkali kita perlu mempertanyakan ini sekali lagi.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Melihat realita sekarang, jelas Sila 4 ini hanya menguntungkan kalangan penguasa. Kita bisa melihat pemimpin kita tidak memimpin rakyat untuk memberi kesejahteraan pada rakyat, tetapi untuk keberlangsungan kekuasaannya sendiri. Dimana kekuasaan itu kemudian digunakan untuk memperkaya diri dan kelompoknya.

Kita dapat melihat wakil-wakil kita hanya memberi janji saat kampanye dan tidak ditepati setelah mereka sah menjadi wakil. Kita kenyang dengan janji-janji dan lapar akan pembuktian.

Jelas sekali implementasi Sila 4 ini perlu dipertanyakan lagi. Perlu diperjelas dan dipertegas.

Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Inilah yang paling utopis dari semua Sila yang ada di Pancasila. Bagaimana mungkin keadilan akan kita dapatkan jika segala instansi pemerintah, penegak keadilan, berlomba-lomba mempraktekkan ketidakadilan? Tidak mungkin

Lemahnya penegakan keadilan dan ketidakjelasan hukum ini kemudian berujung pada tidak tercapainya kesejahteraan secara massal.

Lembaga peradilan dipenuhi orang-orang yang suka menjerat kaum lemah, mempermainkan dan memberangus kalangan tidak punya untuk kepentingan kalangan punya.

Lembaga pemerintah, peradilan, penegak hukum seperti lumpur hitam berbau busuk yang sangat kotor. Lumpur yang tidak membiarkan orang bersih yang masuk akan menjadi tetap bersih saat keluar.

Tempat yang begitu sibuk untuk mencelakakan orang lain, untuk kepentingannya sendiri. Lalu harus kemana “Seluruh Rakyat Indonesia” yang butuh keadilan akan mengadu? Tidak ada tempat untuk mengadu, karena mengadu berarti memasukkan kepala ke mulut buaya.

Apakah Pancasila masih Sakti?

Melihat kondisi terkini yang sedemikian kacau. Dimana sedikit orang saja yang mau memperbaiki kekacauan meski banyak yang menyadari. Apa yang bisa diharapkan dari Pancasila? Apa Pancasila masih relevan untuk memperbaiki ini semua?

Ataukah kita hanya lemah, pasrah dan menyerahkan semuanya pada apa yang kita sebut Tuhan?

Apa Tuhan mau membantu? Sementara kita sendiri tidak terlalu peduli. Dan apa kita benar-benar menyakini Pancasila, sementara kita tidak mengetahui dengan pasti, apa itu Pancasila?

Aku tidak mengetahui banyak tentang kesaktian Pancasila. Bagaimana ideologi Bangsa Indonesia ini disebut Sakti dan seperti apa Kesaktiannya? Mengapa kita terus memperingatinya dalam seremoni, sementara dalam hidup nyata kita tak peduli sama sekali.

Barangkali Pancasila perlu diperjelas, dimantapkan lagi. Barangkali ada yang terlupa sehingga kita hanya mampu melihat Kesaktian Pancasila dalam seremoni. Ataukah tembak menembak dengan bangsa sendiri menunjukkan Pancasila itu Sakti?

Tulisan ini adalah salah satu bentuk keinginan. Untuk mengingatkan saya sendiri dan orang lain, bahwa ada perjuangan panjang yang belum selesai, untuk memperjelas, memantapkan, meyakinkan, Apa itu Pancasila. Apakah kita memerlukannya, apakah kita benar membutuhkannya, apa dia masih relevan? Karena aku sendiri sangat ingin melihat bahwa Pancasila itu benar-benar sakti. Mampu merekatkan kemajemukan dan perbedaan yang ada di Indonesia ini dalam sebuah alunan harmoni. Mampu menjawab pertanyaan masa lalu, masalah-masalah masa kini, dan Tantangan-tantangan yang akan terjadi di masa depan.

Salam Penulis

(Ibnu Achmad/Jogja-08102011)

 

 

 

About CM Community

Terima kasih telah berkunjung ke Blog kami. Berminat menulis disini? Kirim tulisan anda segera ke envirojournal@gmail.com.
Gallery | This entry was posted in All. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Komentar Anda Disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s