EDM akan Laksanakan Konservasi Burung di Desa Gondang Sari, Ketep

Yogyakarta-28/10/12-Bulan Oktober ini EDM (Environment Disaster Management) disibukkan dengan realisasi rencana Konservasi Burung di daerah Desa Gondang Sari-Sawangan-Ketep. Rencana ini sebenarnya mulai digarap sejak awal September 2012. Hingga kini, proses realisasi rencana terus berjalan dan menunjukkan progress yang meningkat secara bertahap.

Menurut ketua panitia Konservasi EDM, konservasi burung di Ketep ini bertujuan untuk menambah jumlah populasi burung dan untuk pengendalian hama.

“Di Ketep ini sering terjadi perburuan burung dan jika tidak ditanggulangi, akan menimbulkan dampak berkurangnya populasi burung” Kata Fahriza Tri Yudisthira, selaku ketua panitia.
“Itu juga sih yang jadi ide awal kita, mulanya cuma mau bikin plakat himbauan untuk tidak menembak (berburu. Pen) burung, lalu berkembang menjadi konsep penangkaran (konservasi. Pen) “ Lanjutnya

Menurut Arianda Wiranata dan dibenarkan oleh Maria Rara Palupi (Ketua EDM), ide ini diperoleh dari hasil diskusi dengan Andre (mahasiswa Teknik Lingkungan UPN, 2008). Lalu dipertajam lagi dengan beberapa diskusi pemantapan konsep.

“Kita ngobrol sama Bang Andre sekitar bulan Juni” Ujar Ipi, sapaan akrab Maria Rara Palupi.

Sejauh ini, progres konservasi masih berada di tahap studi pendahuluan. Meski belum bergerak jauh sejak awal Oktober, bisa dikatakan progres kegiatan ini terus menunjukkan kemajuan. Jenis burung Pleci dan Deruk yang semula terpilih untuk dikonservasi telah dihapus dari list (daftar) EDM. Rencananya EDM akan menggantinya dengan jenis burung pemakan ulat.

“Awalnya memang Pleci dan Deruk. Info ini kita dapat dari penduduk di Ketep. Pleci mudah dipelihara, sedangkan Deruk juga mudah dipelihara dan cepat berkembangbiak. Namun setelah ditelusuri, ada warga yang memberi informasi bahwa burung Pleci dikhawatirkan memakan biji dan buah tanaman di sekitar Ketep. Lalu kita cari informasi lebih jauh. Ternyata Pleci memang burung pemakan buah dan biji. Burung ini sering dilombakan dalam kategori burung berkicau. Karena itulah kita ganti burung yang akan dikonservasi menjadi burung pemakan ulat” Jelas Ipi.
“Maksud kita bikin konservasi kan juga buat pengendalian hama, kalau kita perbanyak burung pemakan buah disana, justru nanti terjadi konflik dengan penduduk lokal yang menanam sayur buah-buahan. Malah Goal yang kita inginkan ga dapet” Lanjutnya.

Pada bulan September-Oktober, setidaknya EDM sudah melakukan kunjungan ke desa Gondang Sari sebanyak dua kali. Kunjungan pertama untuk mengenalkan EDM dan program konservasi burung, sekaligus interaksi dan silaturahmi dengan pemuka masyarakat lokal. Sedangkan kunjungan kedua untuk membicarakan masalah pemberdayaan masyarakat lokal, penyuluhan, dan peninjauan tingkat aspirasi masyarakat lokal.

“Syukur, EDM sudah dikasih tempat untuk membuat kandang burung sederhana disana. Eksekusi di lapangan sudah bisa dilakukan kalau dana dan segala persiapannya selesai” Ujar Yudi, panggilan akrab Fahriza Tri Yudhistira.

Ada banyak kendala yang dihadapi EDM dalam menjalankan proses kegiatan Konservasi burung di Ketep. Kendala itu berupa masalah internal seperti ; tingkat disiplin dan komitmen panitia, masalah keuangan, masalah pengaturan jadwal kunjungan, masalah pengalaman di bidang konservasi burung dan masalah eksternal seperti ; minimnya data dan informasi, kurangnya koneksi dengan pihak luar dan jarak desa yang cukup jauh dari Yogyakarta.

Meski mendapati banyak kendala, hal ini tidak menyurutkan semangat EDM untuk terus menjalankan program konservasi burung. Justru hal ini dianggap suatu proses pembelajaran yang nantinya akan membuat masing-masing anggota EDM yang terlibat menjadi lebih berpengalaman dan terlatih dalam menjalan program sejenis.

“Rencananya hari ini (Minggu/28-10-2012) kita mau kunjungan lagi ke Ketep, tapi kita batalkan karena burung yang akan dikonservasi belum dapet. Kita butuh data lebih banyak lagi” Ujar Yudi.

Menurut beliau, Panitia telah mengadakan kontak dengan Paguyuban Pengamat Burung Jogja (PPBJ) untuk memperoleh informasi tentang burung yang sesuai di daerah Ketep. Namun, informasi yang diperoleh masih minim karena masalah konservasi burung bukanlah konsentrasi dari PPBJ. Pihak PPBJ lebih merekomendasikan masalah pemberdayaan masyarakat jika seandainya program konservasi burung oleh EDM ini terlaksana.

Selanjutnya, PPBJ memberi rekomendasi untuk menemui Pusat penyelamatan Satwa Jogja (PPSJ), sebuah organisasi non pemerintah yang berkomitmen pada penyelamatan satwa dan habitatnya. PPSJ lebih konsentrasi pada penyelamatan satwa. Oleh karena itu, PPSJ diharapkan memiliki banyak informasi yang bisa EDM gali untuk konservasi burung di Ketep.

“Sebelum kunjungan selanjutnya, kita masih konsentrasi untuk atur pertemuan dengan PPSJ ini. Kita butuh informasi banyak dari mereka. Selain itu, kita perlu mematangkan studi pendahuluan lagi. Kita perlu tau burung apa yang cocok untuk daerah Ketep, makanannya, habitatnya, semuanya lah. Jangan sampai kita kunjungan kesana hanya buang-buang tenaga. Step selanjutnya baru kita bisa bicara masalah penyuluhan, pembuatan kandang dan sebagainya” Ujar Yudi yang disepakati oleh Maria Rara Palupi, Rahma Tya dan Arianda Wiranata.

Sementara itu, sambil menunggu realisasi kegiatan ini, EDM juga secara kontinyu melakukan penggalangan dana untuk konservasi burung. Koordinatur penggalangan dana ini dipegang oleh Teguh Wibowo. Cara penggalangan dana yang ditempuh sangat sederhana, yaitu mengumpulkan botol dan air mineral bekas, kertas HVS bekas lalu di jual ke penampung. Uang dari penjualan barang bekas ini kemudian diputar lagi untuk usaha dana yang lebih besar.

Pengumpulan botol dan gelas air mineral yang dikomandoi oleh Teguh ini biasa dilakukan pada sore hari di Area kampus UPN. Sedangkan untuk kertas bekas, EDM langsung menghubungi secara persuasif pada teman-teman yang berminat memberikan bantuan.

“Kita kumpulin botol dan gelas air mineral yang berserakan atau di tong sampah aja, kalau yang sudah di susun kita tidak ambil. Mungkin itu punya orang lain. Sedangkan untuk kertas, kita langsung hubungi kawan-kawan atau kakak tingkat yang mau wisuda, biasanya mereka punya banyak” Ujar Teguh Wibowo.

Ide pengumpulan dana secara kontinyu ini juga diperoleh dari hasil diskusi dengan Andre (Teknik Lingkungan, 2008) beberapa hari sebelum pengumpulan dana dimulai.

EDM berharap kegiatan ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat di Ketep, dan mendapat dukungan dari kawan-kawan mahasiswa Teknik Lingkungan khususnya, dan civitas akademika UPN umumnya.

Secara keseluruhan, kepanitiaan konservasi burung EDM sebagai berikut ; Ketua ; Fahriza tri Yudistira, Sekretaris ; Rahmatia, Bendahara ; Prika Vanie Setia Pambudi, Koor Dana usaha ; Teguh Wibowo, Koor Acara ; Arlen Ekodono, Koor Perkap ; M Aryo Budi Mustopo, Koor Pubdekdok ; Nabil Syafaat Puspito, Koor Humas ; Wahana Athabari, Koor transportasi ; Fuady Fahmi Wijaya. (CEJ/2012)

About CM Community

Terima kasih telah berkunjung ke Blog kami. Berminat menulis disini? Kirim tulisan anda segera ke envirojournal@gmail.com.
Gallery | This entry was posted in Konservasi, Organisasi kampus and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan Komentar Anda Disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s